BAGI sebagian wanita berstatus janda, kebebasan mungkin menjadi hal paling diidamkan. Ia tidak lagi terikat pada aturan ini-itu dan bisa lebih fokus mengasuh anak, jika memang memiliki anak dari mantan suami.
Akan tetapi, tahukah Anda jika hidup menjanda di Indonesia amatlah berat. Ya, masyarakat Indonesia seringkali memandang wanita berstatus janda dengan sebelah mata.
Seperti kita tahu bahwa wanita mendapat status janda lantaran bercerai atau ditinggal mati pasangannya. Ketimbang duda, status janda memiliki konotasi negatif di Indonesia. Padahal tidak ada satu wanitapun yang ingin menjanda, kecuali benar-benar terpaksa.
Budaya patriarki yang mengakar di Indonesia menempatkan wanita sebagai objek bersalah. Janda dilabeli sebagai wanita yang tidak mampu memuaskan suami. Masyarakat menilai janda sebagai wanita lemah dan tidak terhormat.

Itu bukanlah satu-satunya alasan mengapa menjadi janda sangat berat di Indonesia. Berikut adalah alasan kenapa hidup menjanda di Indonesia itu terasa berat.
Janda melewati masa-masa sulit setelah berpisah dari pasangan. Tak hanya mengalami trauma atau duka, janda juga harus menghadapi diskriminasi dan ketidakmapanan ekonomi. Pada beberapa kasus, janda tak memiliki hak waris yang sama setelah berpisah.
Wanita dengan status janda sangat kecil kemungkinan memiliki akses pensiun. Sehingga, kematian pasangan membuat janda mengalami kemerosotan ekonomi. Beberapa daerah bahkan melebeli janda sebagai pembawa sial.