3. Gereja Paroki Hati Kudus Yesus, Bali
Sama halnya seperti dalam pembangunan gereja Fransiskus Asisi, bangunan gereja di Bali ini juga dibangun dengan gaya arsitektur budaya Bali yang kental, kehidupan umatnya dalam struktur sebuah desa adat Pemaksan bernuansa budaya Bali dan khas bernafaskan Katolik.
Tak hanya arsitektur bangunannya yang unik, gereja ini memiliki sebuah Gua Maria yang dikenal dengan sebutan “Palinggih Dewi Kaniaka Maria”, yang menjadi salah satu destinasi wisata rohani baik bagi lokal maupun turis mancanegara.
Gereja ini terletak di Jl. Palasari / Jl. Gereja No. 2, Banjar Palasari,Desa Ekasari, Melaya Jembrana, Bali.
4. Gereja Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT)
Gereja Santo Ignatius Loyola atau yang disebut dengan gereja Sikka, atau Gereja Tua Sikka ini dibangun oleh pastor berkebangsaan portugis, JF Engbers D'armandville pada 1893, dan dibantu oleh Raja Sikka Joseph Mbako Ximenes da Silva.
Sedangkan rancangan bangunannya dibuat oleh Pastor Antonius Dijkmans, arsitek yang juga mendesain Gereja Katedral Jakarta. Arsitektur Gereja Tua Sikka tak hanya mengikuti gaya Renaisans dan Barok yang berkembang di Eropa kala itu, tetapi juga mengadopsi unsur-unsur budaya lokal serta memanfaatkan material bahan bangunan yang ada di Indonesia. Seperti penggunaan material kayu jati sebagai tiang penyangga. Di bagian pintu masuknya terdapat patung setinggi 1,5 meter, yaitu patung Santo Ignatius Loyola dan Santo Yosef.
Memasuki bagian dalam gereja, Anda akan melihat ratusan bangku panjang yang terbuat dari kayu. Melihat ke bagian langit-langit, terlihat jelas genteng bangunan gereja karena kerangka atapnya dibuat tanpa plafon.