TRAGEDI pesta Halloween Itaewon di Korea Selatan pada Sabtu 29 Oktober 2022, yang telah menewaskan ratusan orang tidak hanya juga mengakibatkan luka-luka fisik pada korban, namun juga berdampak pada kesehatan psikis.
Asosiasi Neuropsikiatri Korea, pada Minggu 30 Oktober 2022 dalam pernyataan resminya menyebutkan dampak trauma psikologis ini timbul dari sebaran video dan foto dari tempat kejadian sekaligus ekspresi kebencian yang banyak beredar di linimasa sosial media.
“Mendistribusikan video dan foto tempat kejadian pada saat kecelakaan tanpa penyaringan harus dihentikan. Tindakan tersebut dapat merusak reputasi para korban, termasuk korban jiwa dan menyebabkan kerusakan sekunder dan tersier,” bunyi pernyataan resmi Korean Neuropsychiatric Association.
“Ini juga dapat menyebabkan trauma psikologis bagi banyak orang. Disarankan untuk menahan diri dari menonton adegan atau berita secara berlebihan, karena dapat mempengaruhi kesehatan seseorang,” lanjut pernyataan tersebut, dikutip dari Koreaboo, Senin (31/10/2022).
Tidak hanya itu, para spesialis psikiatri dalam kesempatan yang sama juga menekankan para netizen untuk perlu menahan diri agar tidak mengungkapkan kebencian terhadap situasi yang menyebabkan tragedi ini.
Ujaran kebencian secara online selama bencana tersebut, dikatakan bisa memperburuk trauma keluarga yang ditinggalkan, dan orang-orang yang ada di tempat kejadian, mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa.
Sehingga akhirnya bisa menghambat proses pemulihan mereka. Kebencian dan stigma ini, justru akan menciptakan konflik sosial dan tidak membantu menyelesaikan situasi.
(Foto: Woo Cheol Hoon/ Kyunghyang -Koreaboo)
Senada dengan para ahli psikiatri, Asosiasi Keperawatan Korea dan Asosiasi Keperawatan Psikiatri juga menerangkan trauma psikologis bisa dialami oleh orang-orang yang melihat video dan foto di lokasi kejadian tragedi, menyebar begitu luas dan mudah di linimasa sosial media. Sehingga mudah dilihat tanpa persiapan.
Para perawat mengimbau dan mengingatkan, tragedi seperti ini merupakan contoh situasi yang membutuhkan dukungan kesehatan mental skala besar. Mengingat ini jadi kejadian mengagetkan bagi banyak orang. Tidak hanya keluarga dan kolega dari para korban meninggal, tapi juga korban yang terluka dan keluarganya, saksi mata, dan para petugas darurat yang bertugas.
BACA JUGA:Kenali Gangguan Mental OCD Bisa Muncul Saat Pubertas
BACA JUGA:Menkes Sebut Kasus Gangguan Ginjal Akut Turun Drastis, Pakar Kesehatan Pertanyakan Soal Data?
(Rizky Pradita Ananda)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.