Fenomena tersebut dinamakan superfekundasi heteropaternal, fenomena yang sangat langka yang terjadi ketika sel telur kedua yang dilepaskan selama siklus menstruasi yang sama juga dibuahi oleh sel sperma pria yang berbeda dalam hubungan seksual terpisah.
Dokter Tulio mengatakan, fenomena seperti ini memang sangat langka karena hanya ada satu dari sejuta kasus seperti ini. Kasus wanita Brasil di atas, bukan kasus yang pertama karena saat ini sudah ada sekitar 20 kasus yang terjadi di seluruh dunia.
Hal ini juga didukung oleh pernyataan seorang ahli DNA Karl-Hans Wurzinger yang menyebutkan dari sebuah studi akademis yang diterbitkan pada tahun 1997 bahwa ayah yang berbeda terjadi pada sekitar satu dari setiap 13.000 kasus ayah yang dilaporkan yang melibatkan anak kembar.
Dijelaskan lebih rinci, bahwa hal ini terjadi karena sel telur memiliki masa hidup 12 hingga 48 jam dan sperma dapat hidup selama tujuh hingga 10 hari. Ada waktu sekitar satu minggu untuk potensi tumpang tindih dan pembuahan dua telur oleh dua sperma dari dua tindakan hubungan seksual yang berbeda dengan sperma laki - laki yang berbeda.
(Rizky Pradita Ananda)