Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Boo-Kap dan Sejarah Pembuangan Budak dari Indonesia ke Afrika Selatan

Destriana Indria Pamungkas , Jurnalis-Jum'at, 09 September 2022 |00:02 WIB
Mengenal Boo-Kap dan Sejarah Pembuangan Budak dari Indonesia ke Afrika Selatan
Boo-Kap di Cape Town, Afrika Selatan (Foto: Getty Images/Nigel Pavitt via TripSavvy.com))
A
A
A

BOO-KAP salah satu daerah maju di Cape Town, Afrika Selatan punya hubungan sejarah dengan Indonesia. Pasalnya di kawasan tersebut banyak tinggal orang-orang keturunan Indonesia yang dulu dibawa oleh Belanda ke Afrika untuk dijadikan budak atau pekerja.

Saat menjajah Nusantara, Belanda memang bukan hanya mengeruk hasil bumi seperti rempah-rempah, tapi juga memperbudak warga pribumi.

 BACA JUGA:10 Destinasi Wisata Populer di Indonesia yang Sudah Mendunia, Wakatobi hingga Rinjani

Tak sedikit orang Jawa yang dibawa sebagai budak ke luar negeri seperti Suriname dan Kaledonia Baru. Sekarang mereka sudah memiliki keturunan dan jadi penduduk setempat.

Begitu juga dengan Boo-Kap di Afrika Selatan. Terletak di dekat lereng Signal Hill dan menghadap ke Table Mountain, kota begitu indah, bersih, memiliki tatanan yang rapih, dan rumah dengan cat warna-warni.

 

Banyak keturunan Indonesia yang tinggal di Boo-Kap, karena di masa lalu Belanda membawa orang Indonesia ke Cape Town untuk dijadikan budak.

Budak dari Indonesia yang pertama dibawa Belanda ke Afrika adalah Abraham van Batavia pada 1653.

 BACA JUGA:6 Destinasi Wisata Batam yang Wajib Dikunjungi, Indah dan Menarik

Selain itu, di Boo-Kap ada juga ada makam Imam Abdullah Kadi Abdus Salam. Pengeran Tidore ini merupakan tahanan politik VOC Belanda lalu dibuang ke Cape Town pada 1780.

Semasa Imam Abdullah berada di Cape Town, ia menulis banyak buku tentang Islam, surat-surat dalam Al Quran, dan mendirikan sekolah Islam pertama di Boo-kap. Karena itulah, Imam Abdullah dikenal sebagai Tuan Guru.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement