Fungsi memori diukur pada setiap kunjungan selama periode 12 tahun dari 2004 hingga 2016 menggunakan skor gabungan memori, yang mencakup penilaian memori ingatan kata segera dan tertunda. Rata-rata, peserta menyelesaikan 4,8 penilaian memori selama penelitian.
Hasilnya? Para peneliti menemukan jika dibandingkan dengan para pekerja yang tidak pernah mendapatkan upah rendah, para penerima upah rendah yang berkelanjutan mengalami penurunan memori yang jauh lebih cepat di usia yang lebih tua.
Kelompok orang yang berpenghasilan kecil ini mengalami kira-kira satu tahun "ekstra" penuaan kognitif per periode 10 tahun. Dengan kata lain, tingkat penuaan kognitif yang dialami selama periode 10 tahun oleh orang-orang yang selalu berpenghasilan rendah, akan sama dengan yang dialami mereka yang tidak pernah menerima upah rendah dalam 11 tahun.
Asisten profesor epidemiologi di Columbia Mailman School, Adina Zeki Al Hazzouri, PhD, mengatakan, temuan studi ini memperlihatkan kalau kebijakan sosial terkait kesejahteraan ekonomi para pekerja bisa sangat bermanfaat bagi kesehatan kognitif masyarakat.
“Temuan kami menunjukkan bahwa kebijakan sosial yang meningkatkan kesejahteraan finansial pekerja berupah rendah mungkin sangat bermanfaat bagi kesehatan kognitif,” kata Adina.
“Pekerjaan di masa depan harus secara ketat memeriksa jumlah kasus demensia, dan penuaan kognitif berlebih yang dapat dicegah dibawah skenario hipotetis berbeda yang akan meningkatkan upah minimum per jam,” pungkasnya.
(Rizky Pradita Ananda)