Ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka pantas dianggap dewasa dan dapat memberikan sebuah kebanggaan tersendiri bagi keluarga mereka.
Kendati demikian, tidak semua anak laki-laki sanggup melakukan tradisi ini, karena walaupun mereka dilatih sejak dini, masyarakat setempat percaya ada keterlibatan magis dari roh leluhur yang membuat mereka berhasil melompati batu dengan sempurna.
Tak berhenti sampai di situ, Desa Hilisimaetanö juga punya ritual kuno bernama ‘famadaya harimao’. Ritual ini dilaksanakan tiap 14 tahun sekali dengan mengarak patung yang menyerupai harimau (lawölö fatao) untuk penyucian dan pembaharuan atas hukum-hukum adat yang berlaku di seluruh daerah Maniamölö. Setelah famadaya harimau selesai, dilanjutkan dengan membaca doa-doa kuno yang disebut fo'ere
Desa ini juga memiliki tradisi kerajinan tangan atau kriya yang masih dilakukan sampai sekarang, diantaranya anyaman topi caping, pahatan, ukiran, dan manöfa atau pedang besi.
Dahulu, manöfa difungsikan sebagai alat perang masyarakat Nias, yang jika mereka menang melawan musuh, kepala musuh akan disematkan pada ujung sarung pedang!
Pengembangan desa wisata
Seluruh keunikan tradisi adat dan keteguhan masyarakat desa dalam menjaga warisan budaya itu membuat Desa Hilisimaetanö sangat menjanjikan untuk menjadi sebuah destinasi wisata.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Un yang berkunjung langsung pada Rabu, 22 Juni 2022 pun sampai dibuat terpesona.