Hal ini tentu menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah ke depan untuk membuat nyaman orang berlibur ke Sumbar dan tidak lagi terjebak kemacetan berjam-jam. Salah satu upaya yang dilakukan adalah tidak memperbolehkan kendaraan untuk parkir di bahu jalan di seluruh jalur destinasi wisata karena ini menjadi salah satu penyebab kemacetan saat libur lebaran.
"Seperti jalur Padang menuju Bukittinggi banyak toko, tempat makan yang tidak memiliki ruang parkir kendaraan yang cukup sehingga harus ke pinggir jalan," katanya.
Untuk memperlebar jalur tersebut, membutuhkan dana yang besar dan waktu yang cukup lama sehingga harus ada solusi dari persoalan tersebut. Ia juga mengimbau warga Sumbar agar tidak ikut bepergian saat libur saat libur Idul Fitri dan dirinya memperkirakan sekitar 20 hingga 30 persen yang ada di jalanan saat libur adalah warga Sumbar.
"Sebaiknya warga Sumbar tetap di rumah dan memberikan kesempatan kepada perantau untuk memanfaatkan waktu mereka di Sumbar. Terutama warga di sekitar destinasi wisata agar memberikan fasilitas akomodasi, makanan untuk dijual kepada warga yang datang," kata dia.
Kemudian untuk fasilitas hotel, dapat dilihat bahwa Sumbar ini masih butuh banyak hotel atau penginapan untuk menampung wisatawan yang datang.
"Kita imbau warga yang mau berinvestasi penyediaan akomodasi agar jangan harga hotel di Sumbar terlalu mahal. Rumah juga bisa dijadikan home stay. Kita melihat banyak tamu yang menginap di masjid, di jalan dan SPBU dan ini menjadi catatan penting bagi kita saat lebaran tahun depan," katanya.
(Kurniawati Hasjanah)