INDONESIA sudah memasuki gelombang tiga Covid-19 dengan adanya varian Omicron. Tingkat penularan Omicron jauh lebih cepat hingga kasus terbaru per Sabtu 5 Februari 2022 bertambah jadi 33.729 orang terkonfirmasi positif Covid-19.
Pengamat Kesehatan yang juga Kepala LPMI Stikes Yogyakarta Dr. Sri Handayani, S.Pd., S.Kep., M.Kes mengatakan, saat masuk gelombang tiga ini masyarakat harus wasppada agar tak jadi sesuatu yang memprihatinkan. Ancaman gelombang 3 covid-19 ini juga sudah diprediksi akan terjadi.
"Waktu itu sudah diprediksi dan masyarakat harus tahu menyikapi bagaimana kalau gelombang tiga ini hadir dan kita sudah memasukinya," ujarnya dalam Dialog Kemanusiaan Forum Solidaritas Kemanusiaan "Gelombang Ketiga Pandemi: Masyarakat Harus Apa?", baru-baru ini.
Dr Sri bahkan pernah mengedarkan angket tentang sikap masyarakat bila menghadapi gelombang tiga Covid-19. Dari hasil surveinya, menimbulkan banyak respon menarik.
"Dari hasil angket yang masuk beberapa minggu lalu, sebagian responden tidak percaya (ada gelombang tiga) karena nyatanya mereka patuh terhadap 5M pun mengalani corona, yang tidak pakai juga kena corona sama seperti yang patuh," tuturnya.

Respon lainnya, sebut Dr Sri, juga ada masyarakat yang masa bodoh. Ada juga yang mengucapkan selamat datang Omicron.
"Mungkin informasi yang mereka terima simpang siur, membingungkan mereka menegaskan dr ilmuwan kita harus tenang dengan adanya Omicron dan selanjutnya berlalu, bahkan Covid-19 ini akan jadi penyakit seperti flu, batuk, pilek," terangnya.
Kemudian ada masyarakat yang masih merasa tenang, tapi harus waspada. Menurutnya, di sini masyaralat bisa mengambil sisi positifnya.
"Mereka punya keyakinan sendiri dan ketangguhan akan strategi untuk bisa mengatasi permasalahan Covid-19 ini," ucapnya.
Tak dapat dipungkiri, dari hasil surveinya itu juga ada masyarakat yang khawatir sampai paranoid.
"Mungkin mereka punya pengalaman menyakitkan tentang Covid-19 yang menimpa keluarga, diri sendiri. Begitupun data fakta di media sosial dan informasi dari tokoh masyarakat sampai menimbulkan kekhawatiran mereka, imunitas jadi turun apalagi ada Omicron ini," bebernya.
Lalu apa bedanya situasi Delta dengan Omicron ini? Dikatakan Rektor Universitas Alma Ata Prof. dr. Hamam Hadi, MS, ScD, SpGK, tingkat keparahan Omicron tak sebabkan banyak orang meninggal karena cenderung lebih ringan gejalanya, tapi penularannya sangat cepat.
"Angka per hari mesti diperhatikan, Omicron mortality ratenya lebih rendah ketimbang Delta dulu," paparnya.