Media sosial pada mulanya dibuat untuk tujuan yang positif, yakni memudahkan mereka yang sudah terpisah untuk menjalin silahturahmi dan berkomunikasi dengan orang lain. Namun, kini pemanfaatan berlebihan menjadi marak dan sudah mengarah ke problematik.
Sayangnya, fitur yang ada di media sosial malah jadi beralih fungsi menjadi sebuah indikator keren atau tidaknya seseorang. “Jadi selama masih ada yang merespon, menonton, menunjukkan interaksi seperti likes, follow, komen konten tersebut maka fenomena ini akan bertahan," katanya.
"Ya artinya bukan hanya pihak yang memproduksi konten, tetapi pihak yang merespon konten tersebut juga seolah ‘saling menguatkan’ untuk menjadi sama-sama problematik,” tukas dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.