POTENSI pariwisata dan ekonomi kreatif Cirebon sangat besar. Namun, potensi tersebut belum bisa dikelola maksimal, karena masih banyak perosalan yang harus dibenahi.
Bupati Cirebon Imron Rosyadi menjelaskan, ada dua masalah besar yang sering dihadapi khususnya oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), di sektor parekraf. Yakni soal permodalan dan kurangnya pemanfaatan teknologi.
Menurutnya, masalah permodalan adalah kendala yang umum dihadapi pelaku UMKM. Namun, untuk persoalan teknologi ini, ia mengaku pelaku UMKM di Cirebon masih kurang memanfaatkannya.
"Masalah pertama yang paling besar adalah permodalan. Kedua, masalah IT (teknologi). Masyarakat kami (pelaku UMKM) belum terlalu menguasainya," kata Imron saat ditemui MNC Portal Indonesia, usai acara Talk Show Sarasehan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jawa Barat, dalam rangkaian acara Jabar Culture & Tourism Festival (JAFEST) 2021, di Pendopo Bupati Cirebon, Jawa Barat, Minggu (2/5/2021).
Disampaikan Imron, untuk mengatasi dua masalah tersebut perlu adanya dukungan dari semua pihak, termasuk para alumni dari perguruan tinggi ternama di Indonesia seperti Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad), Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB), Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI
UI), Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA IPB), dan Ikatan Alumni Universitas Katolik Parahyangan (IKA Unpar).
Sebelumnya, lanjut Imron, ia bersama dengan sejumlah alumni dari perguruan tinggi tersebut, sempat berdiskusi terkait masalah dan potensi wisata dan potensi yang dimiliki pelaku UMKM di Cirebon. Termasuk membahas pemanfaatan teknologi agar membantu pelaku UMKM.
Baca Juga: Tiba di Bandara Soekarno Hatta, Penumpang Internasional Wajib Lewati 9 Prosedur Ini
"Kami mengundang alumni-alumni dari ITB, Unpad, Unpar, UI, dan IPB, dalam rangka ini loh masyarakat kami UMKM perlu bantuan, memasarkan dan mengenalkan produk-produknya," ujar Imron.
Dia menambahkan, keunikan budaya yang dimiliki Kabupaten Cirebon selalu berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi masyarakatnya. Sehingga, kata dia, apabila produk-produk dari pelaku UMKM ini dapat berkembang, maka unsur budaya Kabupaten Cirebon baik pada wisata sejarahnya maupun wisata kulinernya juga akan terangkat.
"Budaya dan UMKM adalah salah satu aset berharga. Keduanya tidak bisa dilepaskan," tuturnya.

Dikesempatan yang sama, Ketua Umum IA ITB, Gembong Primadjaya mengatakan, dalam kegiatan JAFEST 2021 ini, semua stekholder yang ada akan bekerjasama untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi oleh pelaku UMKM.
"Ternyata di sini ada masalah perizinan, sertifikasi, itu menjadi kendala. Terutama adanya aturan-aturan misalnya rumah produksi tidak boleh menyatu dengan rumah tinggal. Kemudian pembuangan limbah seperti apa dan sebagainya. Ini harus ditata dengan baik sehingga produk ini bisa dapat sertifikasi dan masuk market global," paparnya.
Dia mengatakan, pemanfaatan teknologi juga perlu dilakukan oleh pelaku UMKM di Cirebon. Pihaknya berkomitmen akan mengembangkan potensi yang ada dengan tren 'kekinian'. Seperti disisi packaging dan produk desain yang, pemasaran melalui platform digital, dan sebagainya.
"Karena market ini setiap tahun berubah-rubah keinginannya. Harus terupdate. Kita lihat di Eropa, ada trend forecast. Di Indonesia belum ada. Harus diperkenalkan. Contoh produk 2021 sama produk 2010, barangnya sama. Perlu ada pembaharuan," jelasnya.
"Teman-teman dari fintech, perbankan, finance, akan mensuport kegiatan ini semua sehingga jadi project bersama," tambahnya.
Untuk potensi parekraf di Cirebon sendiri, jelasnya, harus dikelola dengan sentuhan teknologi dan kreativitas. Sehingga potensi ini dapat bersaing di kancah global.