Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Napak Tilas Sejarah Kebaya, Saksi Bisu Perjuangan RA Kartini

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Rabu, 21 April 2021 |07:07 WIB
Napak Tilas Sejarah Kebaya, Saksi Bisu Perjuangan RA Kartini
Kebaya (Foto:JFFF)
A
A
A

Nama kebaya sebagai pakaian tertentu juga telah dicatat oleh Portugis saat mendarat di Indonesia. Kebaya dikaitkan dengan jenis blus yang dikenakan oleh wanita Indonesia di abad ke-15 atau 16. 

Sebelum tahun 1600, kebaya di pulau Jawa dianggap sebagai pakaian khusus yang hanya untuk dikenakan oleh keluarga kerajaan, bangsawan, dan priyayi pada era ketika petani pria dan banyak wanita berjalan bertelanjang dada di depan umum.

Kemudian, kebaya juga diadopsi oleh masyarakat umum, khususnya para petani wanita di Jawa. Kebaya sehari-hari yang dikenakan oleh petani terbuat dari bahan sederhana dan dikancingkan dengan jarum sederhana atau peniti.

Hingga hari ini di desa-desa pertanian di Jawa, para petani wanita masih menggunakan kebaya sederhana, khususnya di kalangan wanita berusia lanjut.

Berdasarkan jurnal Reading The Kebaya, yang dipresentasikan oleh Cattoni pada Biennial Conference of the Asian Studies Association of Australia in Canberra 2004 lalu, disebutkan bahwa kebaya perlahan-lahan menyebar ke daerah-daerah tetangga melalui perdagangan, diplomasi, dan interaksi sosial ke Malaka, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kesultanan Sulu, dan Mindanao.

(Martin Bagya Kertiyasa)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement