PRAMUGARI cantik, Susan Wamaitha, salah satu korban PHK dari maskapai tempatnya bekerja. Siapa sangka, Susan yang bertahun-tahun bekerja jadi pramugari, tabungan gajinya bisa buat buka minimarket.
Seorang pramugari berpengalaman sekarang menjalankan usaha toko kelontongnya sendiri di negara asalnya, Kenya. Ia juga telah menulis buku autobiografi agar pembaca menemukan kisah hidupnya yang penuh dengan rasa sakit, perjuangan, kemenangan, dan pelajaran yang didapat.
“Saya telah menyaksikan keajaiban, melihat yang terbaik, menghadapi yang terburuk, melalui rasa sakit, dan merasakan luka di kulit saya. Saya telah melihat tanaman tumbuh. Saya telah merasakan seperti apa rasanya diinjak dan apa artinya muncul dari balik awan," kata Susan, dilansir AeroTime Hub, Rabu (31/3/2021).
Baca Juga: Cantiknya Pramugari Sherin, Siap Ajak Kamu Terbang Kemana Aja
Jika pandemi tidak menghentikan industri penerbangan, dia tidak akan pernah punya cukup waktu untuk memulai bisnisnya sendiri. Selama lima tahun ketika dia bekerja sebagai pramugari, Susan hampir tidak punya waktu bahkan untuk keluarganya.
Dulu ia berbasis di Bahrain, sementara keluarganya dengan sabar menunggunya di Kenya.
“Saya sudah menikah dan saya memiliki seorang anak. Mereka berdua tinggal di Kenya. (Sebelum pandemi) kami biasa bertemu setiap bulan. Ketika Kenya dan Bahrain diisolasi dari Maret hingga Juli 2020, kami tidak dapat bertemu satu sama lain. Semuanya tertutup, kami merasa seperti tawanan. Itu tidak mudah.”

Tak disangka, ia melakukan penerbangan terakhir ke London pada Maret. Namun ia tidak tahu bahwa itu perjuangan terakhirnya.
"Maskapai tempat saya terbang tidak segera memecat kami. Kontrak saya berlaku hingga Juli 2020, jadi perusahaan menahan saya. Saya tidak terbang tetapi Gulf Air membayar kami setengah gaji, dan itu tidak masalah."