BAGI banyak negara di Asia, perempuan apalagi ibu rumah tangga, memang suaranya kerap diabaikan. Mereka dianggap tidak punya cukup peran, selain menjadi ibu bagi anak-anak dan mengurus rumah tangga.
Akibatnya, tidak jarang keputusan yang diambil di sebuah keluarga pun diambil oleh suami tanpa melakukan diskusi dengan pasangannya. Padahal, tidak ada orang yang lebih pantas dimintai pendapat tentang keluarga selain pasangan kita loh.
Psikolog Analisa Widyaningrum menerangkan bahwa perempuan memiliki hak dalam mengambil keputusan, termasuk keputusan untuk memiliki anak atau tidak. Pendidikan yang diperoleh perempuan akan menjadi salah satu fondasi terkuat mereka dalam bersikap.

"Ingat para perempuan, ketika Anda mengambil keputusan itu berarti Anda melindungi tubuh Anda sendiri," terang Analisa dalam webinar, Senin (8/3/2021).
Dia melanjutkan, perempuan yang dapat terlibat dalam pengambilan keputusan apapun dalam hidupnya, berarti dia memiliki kompetensi dalam dirinya. Hal ini yang harus terus diedukasi ke masyarakat sehingga tidak ada perempuan yang merasa tidak punya kekuatan.
"Misalnya kasus si ibu belum siap untuk hamil lagi. Jika dipaksakan, ini akan memengaruhi kesehatan mental si ibu yang mana efek jangka panjangnya yaitu memengaruhi tumbuh kembang anak. Jadi masalah baru," kata Analisa.