Potret inilah yang ada pada Banyuwangi beberapa tahun sebelumnya dan secara perlahan berubah menjadi lebih baik.
"Di sinilah kami melihat, karena tidak ada opsi mengeluh, opsi adalah bagaimana menyelesaikan masalah maka kebun yang luas, hutan yang luas diapit tiga taman nasional menjadi peluang, maka kami putuskan triangle diamond menjadi strategi pengembangan wisata. Jadi daerah untuk maju perlu punya rencana strategis untuk pengembangan wisata," tuturnya.
Azwar bercerita, tidak semua orang setuju pada upayanya mengembangkan pariwisata karena sektor itu dianggap pencitraan dan membuang-buang uang.

"Maka untuk mendorong ini semua kami harus menyelam sambil minum, tidak punya banyak waktu. Sekarang banyak daerah kabupaten membuat pariwisata tetapi tidak terintegrasi, terlalu banyak belajar, tidak langsung menyelam akhirnya perlu waktu lama (berkembang)," tambahnya.
Dikatakan Azwar, Banyuwangi yang kini maju dan berkembang tidak dilakukan secara instan karena banyak hal yang dikerjakan untuk mengubah status daerahnya menjadi lebih baik. Selain dengan potensi pariwisata yang besar, aspek budaya juga turut dikembangkan dengan yang dipadukan dengan Inovasi-inovasi.
Karena itu, Pemkab Banyuwangi banyak menggelar event dan festival yang kini jumlahnya mencapai 100 event untuk melakukan konsolidasi budaya dan konsolidasi alam.
"Bagi Banyuwangi festival bukan hanya soal pariwisata, tetapi inilah cara kami membendung intervensi budaya dunia yang setiap detik dari handphone kita masing-masing, makanya Banyuwangi melakukan banyak perbaikan," tutup Azwar.
(Salman Mardira)