Hewan berkaki empat dilarang masuk
Mata pencaharian masyarakat Baduy umumnya berkebun dan bertani. Tanahnya yang subur dan melimpah memudahkan suku ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hasil bumi berupa kopi, beras dan umbi-umbian merupakan komoditas yang paling banyak ditanam masyarakat Baduy.
Namun dalam praktik berkebun dan bercocok tanam, masyarakat Baduy tidak menggunakan kerbau atau sapi untuk mengolah lahan mereka. Hewan berkaki empat selain anjing dilarang keras memasuki Desa Kanekes untuk menjaga kelestarian alam.
Mitos menenun
Seperti kebanyakan suku di nusantara, seni tradisi Baduy juga mengenal budaya menenun yang sudah diwariskan sejak nenek moyang mereka. Menenun hanya dilakukan oleh wanita yang telah dididik sejak dini. Ada mitos yang berlaku jika seorang laki-laki disentuh oleh alat tenun yang terbuat dari kayu, maka laki-laki tersebut akan mengubah perilakunya menyerupai perilaku perempuan.
Tradisi menenun ini menghasilkan kain tenun yang digunakan dalam pakaian adat Baduy. Kain ini memiliki tekstur yang lembut untuk pakaian, tetapi ada juga yang teksturnya kasar. Kain yang agak kasar biasanya digunakan oleh masyarakat Baduy untuk ikat kepala dan ikat pinggang.
Baca Juga: Deretan Pantai Indah di Wakatobi, Pusat Segitiga Terumbu Karang Dunia
Selain digunakan dalam kehidupan sehari-hari, kain ini diperjualbelikan untuk wisatawan yang datang berkunjung ke Desa Kanekes. Tidak hanya kain, ada juga kain dari kulit pohon yang menjadi ciri khas orang Baduy dalam urusan kesenian. Tas bernama koja atau jarog ini digunakan Suku Baduy untuk menyimpan segala macam kebutuhan yang dibutuhkan selama beraktivitas atau berwisata.