SUKU Baduy di Kabupaten Lebak, Banten dilaporkan nol kasus Covid-19. Ada sederet keunikan dari Suku Baduy yang harus traveler tahu.
Suku Baduy hidup dengan alam di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Hampir satu tahun pandemi melanda Indonesia dan seluruh dunia, namun dikabarkan bahwa tak satu pun warga suku Baduy terjangkit virus mematikan tersebut.
Suku Baduy sendiri adalah suku yang masih misterius dan memiliki banyak fakta menarik. Berikut fakta menarik Suku Baduy yang Okezone rangkum dari berbagai sumber.
Dibagi menjadi dua
Suku Baduy dibagi menjadi dua kelompok yaitu Baduy Dalam (Baduy Dalam) dan Baduy Luar (Baduy Luar). Perbedaan paling mendasar antara kedua suku tersebut adalah dalam menjalankan pikukuh atau aturan adat saat melaksanakannya. Jika Suku Baduy Dalam masih menjunjung tinggi adat dan menjalankan aturan adat dengan baik, maka berbeda dengan Suku Baduy Luar.
Masyarakat Baduy Luar telah melakukan akulturasi dengan budaya luar selain Baduy. Penggunaan barang elektronik dan sabun diijinkan oleh pemuka adat bernama Jaro untuk menunjang aktivitas dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Selain itu, Baduy Luar juga menerima tamu yang berasal dari luar Indonesia, diperbolehkan berkunjung hingga menginap di salah satu rumah warga Baduy Luar," tulis Universe Travel.
Baca Juga: 153 WN China Dikarantina Setiba di Bandara Soekarno-Hatta
Pakaian tradisional yang unik
Perbedaan suku Baduy Dalam dan Baduy Luar terlihat dari cara pakaian dipakai. Pakaian atau baju adat di Baduy Dalam tersirat dalam balutan dominan warna putih, terkadang hanya celana yang berwarna hitam atau biru tua. Warna putih melambangkan kesucian dan budaya yang tidak terpengaruh dari luar. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang mengenakan pakaian hitam atau biru tua saat beraktivitas.
Baduy Dalam memiliki tiga desa yang ditugaskan untuk menampung kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh seluruh masyarakat Baduy. Tugas ini dipimpin oleh Pu'un sebagai pemimpin adat tertinggi dibantu oleh Jaro sebagai wakilnya. Desa Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo merupakan tiga desa tempat tinggal masyarakat Baduy Dalam, sedangkan kelompok Baduy Luar tinggal di 50 desa lainnya yang terletak di perbukitan Gunung Kendeng.
Asal usul nama
Istilah Baduy merupakan pemberian dari seorang peneliti Belanda yang melihat kemiripan antara orang-orang di sini dengan orang Badawi atau Bedoin dalam bahasa Arab. Kemiripan ini karena dulu masyarakat di sini sering berpindah-pindah mencari tempat tinggal yang tepat. Namun ada versi lain yang menyebutkan, nama Baduy adalah nama Sungai Cibaduy yang terletak di bagian utara Desa Kanekes.