Sebelumnya hal aneh pada data uji coba vaksin di November 2020 menyebabkan beberapa kritik terhadap AstraZeneca yang berbasis di Inggris. Data menunjukkan bahwa vaksin dapat membantu mengurangi penyebaran Covid-19, serta mencegah penyakit dan kematian.
Selain itu, studi ini juga menemukan efektivitas 62% untuk peserta uji coba yang diberi dua dosis penuh, tetapi 90% untuk subkelompok yang diberi setengah dosis diikuti dengan dosis penuh. Tetapi kepala Operation Warp Speed Gedung Putih, Moncef Slaoui, dan lainnya di AS telah menyatakan keprihatinannya atas kelompok usia yang diuji.

Ia mengatakan efektivitas 90% hanya ditampilkan untuk kelompok berisiko terendah, yang berjumlah 2.741 orang di bawah usia 55 tahun. CEO AstraZeneca, Pascal Soriot, mengatakan raksasa farmasi itu akan menjalankan uji coba global tambahan untuk mengevaluasi kemanjuran vaksinnya.
Soriot mengatakan kepada surat kabar The Times akhir pekan ini bahwa dia yakin bahwa data berikutnya akan menunjukkan perusahaannya telah mencapai tingkat efektivitas yang sama dengan yang lain, di atas 90%.
“Kami pikir kami telah menemukan formula kemenangan dan bagaimana mendapatkan kemanjuran yang, setelah dua dosis, sesuai dengan yang lain. Saya tidak dapat memberi tahu Anda lebih banyak karena kami akan memublikasikannya suatu saat nanti,” terangnya.
Soriot menambahkan bahwa AstraZeneca yakin vaksin tersebut akan efektif melawan strain baru virus corona. Namun saat ini mereka sedang menjalankan tes untuk memastikannya.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.