Sebagian besar percaya bahwa sinestesia berasal dari pengalaman masa kanak-kanak di mana rangsangan tertentu telah menciptakan pasangan sinestetik. Mungkin juga sinestesia berjalan dalam keluarga. Ada kemungkinan bahwa gen untuk sinestesia menghasilkan koneksi ekstra dan hubungan silang antar area otak.
Profesor Sean Day, PhD dan rekan chromesthete menyebut, perbedaannya terletak pada kemampuan menguraikan secara akurat seluk-beluk antara bayangan.
“Jika warnanya lebih cerah, saya sarankan bahwa ini adalah masalah fokus. Artinya, Anda lebih memperhatikan warna. Ada beberapa spekulasi bahwa synesthetes memiliki persepsi warna yang lebih tinggi," jelas dia.
Jika jenis synesthetes ini mendapatkan semacam masukan ganda ke pusat persepsi warna di otak, dari masukan visual dan masukan pendengaran, ini akan lebih ditempatkan pada pusat persepsi warna. Seseorang kemudian dapat menggunakan ini untuk melatih diri sendiri agar lebih tanggap terhadap nuansa warna.
"Namun, seseorang juga dapat menjadi lelah karena terlalu banyak rangsangan, dalam suasana tertentu (misalnya klub dansa yang bising, atau arena olahraga),” jelas dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.