WARNA adalah satu bentuk ekspresi yang bisa menggambarkan emosi manusia. Sebut saja warna merah, yang sering dilambangkan dengan keberanian dan amarah.
Biasanya, warna akan ditampilkan dengan visual dan dinikmati oleh mata. Tapi siapa sangka, permainan warna juga bisa tergambarkan lewat musik atau suara.
Pengalaman tersebut, sebenarnya adalah gejala sinestesia, sebuah kondisi neurologis di mana satu rangsangan sensual membangkitkan sensasi yang lain. Ketika seseorang bisa melihat warna ketika mendengar musik atau suara, maka kejadian ini disebut sebagai chromesthesia.
Chromesthesia adalah sinestesia suara untuk warna, yang merupakan jenis sinestesia di mana suara yang didengar secara otomatis dan tanpa sengaja membangkitkan pengalaman warna. Antara 5-15% populasi orang dewasa pernah mengalami suatu bentuk sinestesia.
Melansir Vice, sebagai bidang studi, penelitian sinestesia telah berkembang pesat selama beberapa abad terakhir. Ketika orang pertama kali menemukan sinestesia pada abad ke-19, sinestesia secara keliru dikatikan dengan buta warna.

Ideologi ini kemudian dikesampingkan, ketika ditemukan bahwa orang benar-benar dapat membangkitkan indra yang sama dengan mata tertutup, menegaskan basisnya dalam neurologi.
Sejak saat itu, agenda penelitian beralih dari mempertanyakan keabsahan kondisi tersebut menjadi memahami bagaimana sebenarnya hal itu dapat memengaruhi subjek. Baru pada tahun 1980-an ahli saraf, Richard Cytowik dan Simon Baren-Cohen, mulai memahami karakteristiknya.
Perkembangan terbaru datang dari Universitas Cambridge, yang telah menjembatani hubungan antara sinestesia dan autisme. Sedangkan synaesthesia hanya terjadi pada 7,2% individu tipikal, sedangkan autisme terjadi pada 18,9% penderita.
Di tingkat otak, sinestesia melibatkan koneksi atipikal antara area otak yang biasanya tidak terhubung satu sama lain. Sehingga, sensasi di satu saluran secara otomatis memicu persepsi di saluran lain.