"Harus dipahami bahwa hubungan itu dapat terjalin dengan adanya pertemuan, dalam arti bertemu dan berinteraksi secara langsung, tidak bisa dilakukan dengan online," tegasnya.
Namun mengingat hingga saat ini vaksin corona belum ditemukan, Mei meminta pemerintah mencari solusi agar anak-anak bisa kembali ke sekolah. Tentu dengan cara yang sudah dipikirkan secara matang.
Dikhawatirkan bila sekolah online ini dilakukan secara terus menerus, maka akan mempengaruhi psikologis sang anak, karena kegiatan tersebut dia menilai sangat tidak efektif.
"Sebenarnya bisa dibuat kelompok kecil atau sekolah bergiliran setiap kelas jika ruangan tidak memungkinkan. Walau hanya 3 atau 4 jam misal dari jam 8 sampai jam 12 siang akan sangat membantu anak-anak kembali menemukan hak mereka untuk berada di sekolah," kata Mei.
"Jangan lupa anak-anak ke sekolah bukan hanya tempat belajar dan mendapatkan ilmu namun mereka juga berinteraksi, menjalin kedekatan sebagai makhluk sosial, belajar aturan di mana mungkin di rumah sulit dilakukan jika orang tua tidak dapat mengontrol karena sibuk bekerja dan banyak lagi hal yang diperoleh anak-anak di sekolah yang tidak bisa digantikan di rumah," tandasnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)