Pandemi virus corona atau Covid-19, membawa dampak yang cukup besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Salah satunya perubahan konsep belajar mengajar.
Pemerintah terpaksa menerapkan aktivitas belajar online demi mencegah penularan Covid-19 di lingkungan sekolah. Kegiatan belajar online ini sebetulnya sempat menimbulkan perdebatan di kalangan orang tua karena sejumlah alasan.

Pertama, meski belajar online dinilai aman meminimalisir penularan virus, namun tak semua orangtua yang mampu memberikan fasilitas gadget kepada anak-anaknya. Buktinya, sudah banyak kasus pencurian handphone yang dilakukan oleh sejumlah oknum dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan sekolah online.
Kedua, sebagian orangtua mengkhawatirkan bahwa sekolah online dapat membuat sang anak menjadi anti-sosial dan kuper (kurang pergaulan). Pasalnya, konsep belajar ini tidak mendorong anak-anak untuk berinteraksi langsung dengan guru maupun teman-temannya. Benarkah demikian?
Menanggapi permasalahan tersebut, Psikolog Meity Arianty mengatakan terlalu dini menyimpulkan bahwa sekolah online memicu perilaku anti-sosial.
"Banyak faktor yang memengaruhi munculnya perilaku anti-sosial, tidak bertemu dengan orang lain dan hanya mengurung diri di rumah hanya salah satu faktor. Ada banyak faktor lain lagi," kata Mei saat dihubungi Okezone via sambungan telefon, Minggu (22/8/2020).
Baca juga: Pariwisata Raja Ampat Kembali Dibuka, Wisatawan Wajib Registrasi Online
Kendati demikian, Mei tidak menampik sekolah online bila dilakukan dalam jangka waktu yang lama akan membuat psikologis anak-anak terganggu. Pasalnya, mereka juga perlu bersosialisai dengan teman-teman sebayanya.