Menurut laporan media setempat, China Daily, pihak komite pengelola sendiri, pada Senin 6 April 2020 lalu mengatakan mereka telah berusaha mengendalikan lalu lintas kepadatan pengunjung dengan mengharuskan semua pengunjung tetap berada dalam jarak yang aman saat melintasi jalan setapak.
Mereka mengklaim juga bahwa Huangshan bahkan telah merekrut lebih banyak sukarelawan untuk membantu melakukan filterisasi pada wisatawan. Keputusan untuk kembali membuka tempat wisata dan mengizinkan para wisatawan memenuhi tempat tersebut, tak pelak mendapat kritikan dari banyak pihak.
People are packed at Huangshan (Yellow Mountain), a jagged range of more than 70 knifelike peaks in eastern China’s Anhui province, after quarantine ban lifted in most parts of China #CoronavirusPandemic pic.twitter.com/SiVunZJys5
— Keith Zhai (@QiZHAI) April 5, 2020
“Saya pikir sebetulnya China harus terus mendeteksi, melakukan pengawasan terkait pandemi COVID-19. Perlu menyesuaikan penerapan konsep jaga jarak yang diperlukan untuk menjaga COVID-19 ini bisa terkendali, “ ujar Benjamin Cowling, profesor epidemiologi dan biostatistik di Universitas Hong Kong.
Patut diketahui, Provinsi Anhui yang menjadi lokasi dari kawasan wisata pegunungan Huanghsan itu secara geografis, berbatasan dengan Hubei, provinsi tempat munculnya virus corona.
Terkait kasus positif COVID-19, Provinsi Anhui disebutkan mengklaim hanya memiliki sebanyak 990 kasus positif dengan jumlah kematian enam orang pasien. Dengan kasus terakhir yang dikonfirmasi diagnosanya, pada 27 Februari 2020 lalu.
(Muhammad Saifullah )