Konsep kesetaraan gender di antara laki-laki dan perempuan, nyatanya memang bukan jadi konsep yang bisa diaplikasikan di semua rumah tangga.
Jika ada suami yang dengan senang hati mengizinkan istrinya untuk bekerja, berkarir setinggi mungkin di bidang yang digeluti. Maka ada juga pastinya suami yang sama sekali tidak mengizinkan istrinya untuk menjadi seorang perempuan berkarir.

Tria, 30 tahun, merupakan ibu muda dari tiga orang anak laki-laki. Sebagai istri dan ibu rumah tangga, pembahasan perihal izin bekerja sudah ia bicarakan dengan sang suami, yang kala itu masih berstatus sebagai pacar.
Awalnya ketika masih pacaran, sang suami tak melarang dirinya untuk bekerja menjadi wanita karir. Izin dari sang pasangannya tersebut, dirasakan Tria sebagai wujud dari rasa sungkan sang pasangan untuk melarang-larang dirinya.
Namun pada akhirnya, kehamilan anak pertama yang datang dengan cepat di rumah tangganya, membuat sang suami dengan tegas tak mengizinkan dirinya untuk bekerja. Pasalnya, kehamilan anak pertama Tria kala itu cukup membuat kondisi fisiknya menurun.
“Waktu pacaran dia masih kasih kebebasan, terserah aku mau kerja atau full time di rumah. Awal nikah sempat kerja, tapi akhirnya aku hamil dan dari situ suami bilang tidak usah bekerja lagi karena aku mengandung. Waktu itu kondisinya aku mabuk parah,” kata Tria belum lama ini.
Menyadari kondisi kesehatannya saat hamil tak memungkinkan, Tria pun mengikuti kemauan suami agar ia tak bekerja dengan besar hati.
Ia sadar jika perintah sang suami tujuannya baik, demi kesehatan dirinya dan sang bayi.
Sejak menikah hingga sekarang telah dikarunia tiga orang putra, meski merasa bahagia dengan keluarga kecilnya ini. Namun Tria tak menampik, di tengah menjalani peran sebagai istri dan ibu full-time, sebagai mama muda ia pun pernah jenuh dengan rutinitas kesehariannya dan sempat merasakan ingin menjadi wanita karir yang memiliki pekerjaan di luar dan memiliki penghasilan sendiri sehingga bebas ingin membeli apapun.