SELAIN karena infeksi di masa kehamilan, bayi lahir dengan dengan berat badan rendah berisiko menderita tuli. Bahkan angka tuli kongenital pada bayi baru lahir mencapai 1/1000 kelahiran.
Data terbaru yang dirilis dari beberapa rumah sakit rujukan di Indonesia, 5.000 anak tiap tahun lahir dengan gangguan pendengaran. Hasil Riskesdas 2018 menyatakan, ada 0,11% dari anak usia kurang dari 5 tahun atau sekira 25 ribu kasus masuk pada kategori tuli.

Perawakilan Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Indonesia (PP PERHATI KL) Dr dr Fikri Mirza Putranto, Sp THT-KL (K) menyebutkan, tak sedikit risiko anak lahir dengan kondisi tuli. Sehingga ibu hamil harus melakukan pencegahan dengan berbagai cara.
“Pada prinsipnya anak baru lahir dapat diskrining kesehatan pendengarannya, idealnya sebelum pulang ke rumah sudah dipastikan,” ucapnya, dilansir Okezone dari Sehatnegeriku, Senin (9/3/2020).
Dalam mencegah risiko tersebut, Dokter Fikri mengatakan, ibu hamil harus selalu berperilaku hidup sehat. Semasa mengandung, jangan sampai mengalami kekurangan gizi ibu hamil.
"Perbanyak asupan gizi seimbang, mengonsumsi makanan sehat, kaya asam folat, asam lemak omega-3, vitamin A, zat besi, dan sebagainya," imbuh Dokter Fikri.
Saat lahir dengan kondisi tuli, sebut Dokter Fikri, sebagian besar pasien tidak lagi cukup dengan menggunakan alat bantu dengar biasa. Namun tak sedikit anak dengan lahir tuli membutuhkan operasi.
Sementara itu, Deputy Direktur Kasoem Hearing Trista Kasoem menambahkan, orangtua dan anak-anak yang lahir tuli membutuhkan wadah, juga kegiatan edukasi. Seperti parent training dan parent education, karena mereka harus didampingi dalam kondisi apapun.
"Kami berharap dapat ikut mendukung pemerintah di bidang kesehatan pendengaran, untuk membantu memberikan solusi permasalahan gangguan pendengaran di Indonesia," pungkasnya di sela Grand Opening Kasoem Hearing Kelapa Gading, beberapa waktu lalu.
(Martin Bagya Kertiyasa)