Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Penyebab Tuli Kongenital Pada Anak dan Ini Penyebab Utamanya

Tiara Putri , Jurnalis-Rabu, 27 Februari 2019 |21:00 WIB
Penyebab Tuli Kongenital Pada Anak dan Ini Penyebab Utamanya
Gangguan tuli pada anak (Foto: Parents)
A
A
A

GANGGUAN pendengaran adalah masalah serius yang harus diperhatikan orangtua. Berdasarkan data di tahun 2018, sebanyak 6,1 persen orang di dunia atau sekira 466 juta jiwa mengalami gangguan pendengaran dimana 34 juta di antaranya adalah anak-anak. Tentunya hal ini dapat mengganggu perkembangan anak.

Terdapat empat macam gangguan pendengaran yang bisa dialami oleh anak antara lain tuli kongenital, gangguan pendengaran akibat bising (GPAB), otitis media akut (OMA) atu infeksi telinga tengah, dan serumen prop. Pada anak-anak, gangguan pendengaran terberat adalah tuli kongenital. Sebab gangguan itu bisa membuat anak tuli sebagian atau bahkan tidak bisa mendengar sama sekali.

 BACA JUGA : Terdapat Lebih dari 7000 Penyakit Langka, Waspadai Ciri-cirinya

Di Indonesia, sebanyak 5 ribu anak diperkirakan terlahir dengan tuli kongenital. Kondisi ini dapat berdampak pada gangguan kognitif, psikologi, dan sosial. Tuli kongenital membuat anak mengalami gangguan proses berbicara, perkembangan kemampuan berbahasa, komunikasi, serta proses belajar dan perkembangan kepandaian.

“Bayi yang lahir dengan kondisi tuli konginetal di masa depan akan menjadi SDM berkualitas rendah. Dirinya menjadi tidak mandiri, tidak mampu bersosialisasi, dan tidak dipungkiri menjadi beban. Belum lagi banyak perusahaan yang enggan memiliki karyawan dengan gangguan pendengaran. Banyak mereka yang menggunakan alat bantu dengar pada akhirnya tidak lolos rekrutmen karena gangguan tersebut,” ungkap dokter spesialis THT, bedah kepala, dan leher, dr Hably Warganegara, Sp.THT-KL.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement