Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tak Bisa Solo, Atasi Stunting Harus Keroyokan

Dewi Kania , Jurnalis-Rabu, 04 Maret 2020 |19:30 WIB
Tak Bisa <i>Solo</i>, Atasi <i>Stunting</i> Harus Keroyokan
Ilustrasi. (Nursingschool)
A
A
A

Pakar Kesehatan Dr dr Supriyantoro, SpP, MARS, mengatakan, kasus stunting atau kegagalan tumbuh kembang anak akibat malnutrisi kronis di Indonesia menjadi pekerjaan besar pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Terlebih nominal target yang dituju Presiden Jokowi terbilang sangat ambisius yakni 14 persen pada tahun 2024 mendatang.

"Pencegahan stunting dilakukan dengan upaya mengawal 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dengan program pemberian makan bayi dan anak (PMBA) termasuk ASI Eksklusif, makanan pendamping ASI, dan menyusui sampai 2 tahun atau lebih," ucap Supriyantoro dalam keterangan tertulis Temu Pakar Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) di Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Penyebab masih tingginya angka stunting di Indonesia sangat kompleks. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya informasi pada masyarakat tentang pentingnya memperhatikan asupan gizi, serta kebersihan diri pada ibu hamil dan anak di bawah usia dua tahun.

Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dan gizi seimbang, serta pemberian ASI yang kurang tepat, juga jadi pemicu anak stunting.

"Pekerjaan rumah ini tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Butuh kerjasama lintas sektor untuk mencapai target tersebut. Istilahnya konvergensi atau keroyokan," imbuhnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement