Pria yang juga berprofesi sebagai penyiar radio itu mengakui bila batik tulis bukanlah kebutuhan dasar sehingga kurang peminat. Hanya orang-orang yang sudah mampu alias berada di kelas ekonomi menengah ke atas lah yang mau membeli batik tulis. Sedangkan bagi mereka yang masih berupaya memenuhi kebutuhan dasar, lebih memilih menggunakan uangnya untuk hal lain dari pada membeli batik tulis.
“Ambil contoh, gaji fresh graduate itu berapa sih. Mereka pasti mikir, daripada mengeluarkan uang satu juta untuk beli batik tulis, mending uangnya buat makan, transportasi, jalan-jalan, atau membeli gadget,” imbuh Iwet.

(Foto : @iwetramadhan/Instagram)
Hingga saat ini dirinya mengaku belum menemukan solusi yang tepat agar pembelian batik tulis meningkat. Iwet pernah mencoba membuat batik tulis yang harganya lebih murah. Tapi itu pun harga jualnya tetap mencapai Rp1 juta.
“Saya sudah usaha untuk jual batik tulis yang dimurahin, satu kali celup tetap saja harga paling murah Rp600 ribu, belum sama biaya jahit. Begitu dijual harganya Rp1 juta, siapa mau beli. Kalaupun pakai cap paling murah 300 ribu, ketika kemudian diubah menjadi baju harganya masih Rp600 ribu,” kata Iwet.