Kondisi-kondisi ini yang kemudian membuat masyarakat khususnya generasi muda lebih memilih baju atau busana lain yang harganya terjangkau. Tentunya keputusan itu memberikan keuntungan bagi industri besar, bukan para pengrajin batik. Untuk itu, Iwet berharap hal ini bisa menjadi pertanyaan bagi semua pihak guna menemukan solusi dengan segera.

“Solusi ini mesti dicari, apakah nanti memilih kain yang harganya lebih murah. Sebab sampai saat ini kain primisima untuk membuat batik saja masih impor. Masa sih kita punya tanah sebanyak ini enggak bisa bikin kapas sendiri. Jadinya hal ini ‘kan menyentuh ke berbagai aspek termasuk pemerintah, harus menjadi pertanyaan buat kita semua,” pungkas Iwet.
(Helmi Ade Saputra)