"Biasanya karena kebutuhan seksual. Pelaku mungkin tidak bisa menyalurkan hasratnya karena dilarang norma sosial sehingga mengakali kebutuhannya itu dengan mengirim pesan berbau seks kepada orang lain. Biasanya semakin korban merasa terganggu, pelaku juga akan merasa semakin senang karena merasa lebih powerful," jelas Arrundina saat dihubungi Okezone melalui pesan singkat, Rabu, 11 September 2019.

Ditambahkan Arrundina, perilaku tersebut dapat menimbulkan rasa senang. Akibatnya pelaku akan mengulanginya terus-menerus. Bahkan tidak menutup kemungkinan ia mencari korban lain. Tujuannya tentu saja untuk memuaskan kebutuhan yang tidak tersalurkan.