"Kebiri kimia ini caranya disuntik, sebenarnya masih bisa balik. Tidak bisa hilang semuanya. Karena bukan testisnya dibuang agar sama sekali tak punya (hasrat seksual)," terang Staf Khusus Menteri Bidang Peningkatan Pelayanan Kesehatan itu.
Prof Akmal menambahkan, kebiri kimia ini dilakukan agar produksi hormon testosteron seseorang berkurang, sehingga gairah seksualnya menjadi tidak agresif.
Sementara itu, eksekusi kebiri kimia ini ternyata masih kontroversi di kalangan medis. Banyak tenaga medis yang menolak melakukan kebiri kimia karena dapat melanggar sumpah dokter ketika melakukan kebiri kimia.