Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Nestapa Baiq Nuril Melawan Pelecehan Seksual hingga Nasib sang Anak

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Selasa, 09 Juli 2019 |11:39 WIB
Nestapa Baiq Nuril Melawan Pelecehan Seksual hingga Nasib sang Anak
Nestapa Baiq Nuril mencari keadilan (Foto : New Straits Times)
A
A
A

Psikologis keluarga dan anak Baiq Nuril mesti diperhatikan

Okezone sempat menanyakan kasus ini pada Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi. Dia coba melihat sisi lain dari kasus ini yaitu sisi psikologis. "Saya tidak dapat membayangkan bagaimana sedihnya keluarga Nuril, bagaimana suaminya yang pasti merasa syok, malu, sedih, kecewa, bahkan mungkin marah mendengar kabar tersebut," ungkap Psikolog Mei kala itu.

Psikolog Mei sadar betul, kabar ini membuat hati banyak orang kecewa. "Mendengar istrinya dilecehkan saja pasti sudah sangat berat, apalagi sekarang harus menerima kenyataan kalau Baiq Nuril menjadi tersangka," sambungnya.

Bahkan, menurut Psikolog Mei, tidak sampai di situ saja. Hal yang paling menyedihkan adalah anak Baiq Nuril yang dikabarkan tidak mau bersekolah karena kasus ini. Anak-anak Baiq Nuril merasa malu, tentu juga sedih dengan adanya pemberitaan ini. "Mau marah, marah sama siapa? Dapat dibayangkan bagaimana keluarga Nuril harus menanggung rasa malu dan kesedihan itu," sambungnya.

Baiq Nuril sedih

(Foto : AFP)

Di sisi lain, Psikolog Mei merasa perlu melihat kasus ini dari sudut pandang si anak. Seperti diketahui, peran ibu sangat besar dalam mendidik anak, membentuk karakter, dan keberhasilan tumbuh kembang anak. Peran ibu dinilai lebih besar daripada ayah atau pun anggota keluarga lainnya.

Menurut Psikolog Mei, hal ini bukan tanpa dasar, karena dengan asumsi, ibu memiliki waktu tatap muka dengan anak relatif lebih banyak daripada anggota keluarga lainnya (ini mungkin akan berbeda apabila yang bekerja justru ibu bukan ayah).

Merujuk pada referensi psikologi, menurut Imama (2013) peran ibu untuk anak merupakan perilaku atau sikap yang diharapkan sesuai dengan posisi atau fungsi sosial yang diberikan. Sebagai ibu tentu diharapkan bisa berperan sebagai pendidik pertama dan utama dalam tumbuh kembang anak.

Dari kasus ini, Psikolog Mei berpandangan, diketahui Nuril ialah guru honorer yang tentu ekspektasi anak menjadi dua kali lipat. Namun, apa yang diharapkan anak ternyata belum sesuai dengan yang dihadapinya sekarang.

"Anak Nuril tentu tidak tahu harus bagaimana menghadapi kondisi tersebut. Saya rasa akan jauh lebih mudah memberikan pemahaman kepada suaminya ketimbang anak-anaknya," kata Psikolog Mei.

Aksi Bela Baiq

(Foto : Ist)

Nah, dengan begitu, upaya yang dapat dilakukan masyarakat atau orang terdekat Nuril ialah memberikan dukungan pada Nuril sehingga dengan demikian dia merasa lebih tenang.

"Anaknya pun akan merasakan dukungan ke ibunya sehingga kemarahan atau kekecewaannya sedikit berkurang, dan nanti pelan-pelan Nuril dapat memberikan pengertian tentang kasus yang menimpanya. Saya yakin anak-anaknya Nuril akan memahami dan lebih memercayai ibunya dibanding orang lain," ungkap Psikolog Mei.

Namun perlu diingat, sambung Psikolog Mei, kita sebagai masyarakat yang mendukung Nuril dalam mencari kebenaran bukan berarti membenci atau menyalahkan pihak yang satu, karena biarlah pengadilan yang memutuskan hal tersebut.

"Seperti yang sering kali saya sampaikan terutama kepada mahasiswa saat mengajar, usahakan saat Anda menyukai atau mendukung salah satu pihak, maka jangan menghadirkan kebencian pada saat yang sama ke pihak yang lain. Fokus dengan dukungan atau rasa suka atau rasa cinta saja," saran Psikolog Mei.

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement