Senada dengan kisah Nabi Ibrahim AS, kisah Nabi Zakaria AS dengan sang istri, Isya binti Faqudza. Kala itu dikatakan bahwa Isya bahkan sudah divonis mandul, alias perempuan yang secara biologis sudah tidak bisa mengandung dan melahirkan seorang anak oleh sejumlah ahli pada masa itu.
Hal ini tentu semakin memupuskan harapan Nabi Zakaria AS dan sang istri untuk bisa memiliki keturunan. Namun yang patut diteladani ialah, meski begitu Nabi Zakaria tidak pernah berhenti untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT, untuk bisa dikarunia anak yang kelak bisa meneruskan perjuangan dakwahnya.
Dikisahkan, suatu hari, Nabi Zakaria mendatangi kediaman sang sahabat yakni Siti Maryam. Zakaria AS merasa kaget ketika melihat ada makanan dan buah-buahan yang ada di mihrab Maryam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, “Setiap kali Zakaria memasuki mihrab Maria, ia selalu menemukan makanan di sisi Maria”.
Nabi Zakaria yang bingung lalu bertanya, dari mana semua makanan itu berasal. Maryam menjawab bahwa semua itu adalah rezeki dan anugerah dari Allah. Jawaban singkat tersebut semakin memberi semangat kepada Nabi Zakaria untuk tidak lelah mengharap karunia dari Allah SWT.
Kemudian, Nabi Zakaria pun disebutkan meminjam mihrab Maria untuk berdoa. Dalam Al-Qur’an disebutkan, Nabi berdoa

رَبِّ هَبْ لى مِنْ لَدُنْكَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً اِنَّكَ سَميعُ الدُّعاء
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.
Nabi Zakaria kala itu yang masih dalam posisi berdiri dalam salatnya, tiba-tiba didatangi oleh malaikat Jibril yang datang untuk menyaimpaikan kabar gembira. Malaikat Jibril membawa kabar bahwa Nabi Zakaria AS akan dikarunia oleh Allah SWT, seorang anak bernama Yahya yang mana sang anak tersebut akan menjadi panutan dan pembenar firman-firman Allah SWT, dan diangkat oleh Allah SWT menjadi seorang nabi seperti Nabi Zakaria AS.
Dari kisah dua Nabi, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Zakaria AS di atas kita sebagai umat Muslim, bisa meneladani kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan kepada Allah SWT. Di mana sejatinya jika Allah sudah berkehendak, maka ketetapan Allah akan terjadi, walaupun mungkin di luar nalar manusia. Demikian seperti dirangkum dari berbagai sumber, Sabtu (18/5/2019).
(Dinno Baskoro)