Pesta demokrasi tahun ini menyisakan sejumlah kisah sukses hingga kisah pilu dari para calon anggota dewan. Mereka yang berhasil menjadi anggota dewan baik di DPRD kabupaten, provinsi, maupun DPR RI tentu bersyukur. Berbeda dengan calon anggota dewan yang gagal, gangguan mental dan perilaku pun mengintai.
Menurut Prof. DR. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater, hal ini dapat terjadi karena tidak semua calon anggota dewan memiliki kesiapan mental menghadapi dan menerima hasil dari politik yang sangat berat. Banyak calon anggota dewan yang harus mengubah pola hidupnya demi meraih simpati mayarakat untuk mendapatkan suara. Dari mulai terganggunya pola istirahat, pola makan, dan memforsir pikiran, bahkan ada kasus untuk menutupi kelelahan fisik dan psikisnya memilih dengan menggunakan narkoba.
Selain masalah kesiapan mental, para calon anggota dewan juga dibebani dengan biaya politik yang sangat mahal. Untuk calon anggota dewan di kabupaten atau kota saja minimal harus menyiapkan dana Rp1 miliar. Ini menjadi tantangan berat bagi mereka yang tidak memiliki modal dan jaringan.

Terhadap beratnya perjuangan yang mereka hadapi, ketidaksiapan mental dan materi ini membuat para calon anggota dewan mengidap gangguan stres dan depresi dari level ringan hingga berat. Beberapa gejala stres yang mereka alami antara lain sakit kepala berulang, insomnia, berhalusinasi, pola makan berubah, bicara tidak jelas, hingga tidak mau bersosialisasi. Menurut Prof. DR. dr. H. Dadang, masyarakat terkadang malu mengakses layanan kesehatan jiwa.
Baca Juga: Intip Harga Outfit Adian Napitupulu, Jawabannya Bikin Syok!
"Mereka lebih nyaman memilih pengobatan alternatif seperti datang ke paranormal atau ahli spiritual karena gejala yang muncul banyak seperti gangguan jin, santet, atau yang berbau mistis lainnya. Padahal gangguan seperti ini dapat dijelaskan secara medis dan dapat dipulihkan dengan pengobatan yang tepat," ujarnya dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Jumat (3/5/2019).