Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas menyambangi mereka.
“Kapan lagi bisa merasakan suasana pantai yang tenang sembari mendengarkan suara deburan ombak dan memandangi bintang-bintang di langit. Syukur-syukur ada bintang jatuh, biar bisa sekalian membuat harapan,” gumamku.
Kami berjalan secara perlahan melewati deretan rumah di kanan-kiri yang dihiasi lampu jalan kuning temaram. Setelah kurang lebih tujuh menit, langkah kaki Oeday tiba-tiba terhenti saat tiba di lokasi terparah yang terdampak bencana tsunami.
Bukan tanpa sebab, jalan setapak yang dulunya digunakan sebagai jogging track di tempat ini, hancur luluh lantah hingga menampakkan akar-akar pohon yang mencuat dari permukaan tanah. Alhasil, kami harus memutar arah agar bisa sampai di tempat tujuan.
Di dekat situ, sebetulnya juga terdapat sebuah rumah kosong yang belum selesai direnovasi.
“Dulu disini banyak rumah (cottage) mas, tapi kayaknya ikut hancur saat bencana. Nah, di depan sana karangnya juga besar-besar. Sekarang sudah tidak ada,” kenang Dodi.
