
“Berdasarkan penelitian, nyamuk aedes aegypti telah mengalami perubahan perilaku adaptif. Sebelumnya lebih banyak aktif mengisap darah di siang hari, sekarang juga aktif mengisap di malam hari. Dalam berkembang biak, nyamuk ini tidak hanya bisa bertelur di air yang jernih, tapi juga di air yang berpolusi sehingga jentiknya dapat ditemukan di berbagai tempat. Walau saat dewasa, nyamuk aedes aegypti betina sebagai pembawa virus dengue, lebih senang hidup di dalam ruangan dan butuh darah manusia untuk membantu perkembangan telurnya,” ungkap Prof. Drh. Upik saat ditemui Okezone, Selasa (19/2/2019) dalam acara “MY BABY Minyak Telon Plus Lengkapi Langkah Perlindungan 3M Plus” di bilangan Senayan, Jakarta Pusat.
Pemerintah sendiri melalui Kementerian Kesehatan tengah menggalakkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus 2 yang pertama adalah menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular demam berdarah, serta melakukan upaya pencegahan lain, termasuk menggunakan produk anti nyamuk yang aman.
Selain melakukan upaya 3M Plus seperti yang sudah disosialisasikan oleh pemerintah sebagai upaya pencegahan terkena DBD. Sebetulnya apa lagi cara sederhana yang bisa dilakukan oleh para orangtua untuk melindungi anak dari gigitan nyamuk?
