Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merawat Kopi Liar Lencoh Peninggalan Kolonial

Agregasi Solopos , Jurnalis-Sabtu, 16 Februari 2019 |22:30 WIB
Merawat Kopi Liar Lencoh Peninggalan Kolonial
Kopi liar Lencoh peninggalan kolonial Belanda (Foto:Solopos)
A
A
A

SEKITAR tahun 1935, bangsa Belanda membawa biji kahwa untuk pertama kalinya ke Dukuh Plalangan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali.

Dusun itu berjarak kurang dari 5 km dari puncak Merapi. Dua ribuan hektare lahan di sana disulap oleh pemerintah kolonial menjadi perkebunan kopi. Dusun Plalangan yang memiliki ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut menjadikan tanaman kopi lebih cepat berkembang dengan rasa khas. Pasalnya, kopi hanya jamak ditanam di tanah dengan ketinggian maksimal 1.200 meter.

Saat itu kopi menjadi komoditas yang dimonopoli pemerintah Belanda. Buruh perempuan dipekerjakan sebagai pemetik biji kala panen dengan bayaran murah. Biji-biji itu dibawa ke Negeri Kincir Angin untuk diolah menjadi kopi. Ironisnya, kopi hanya dikonsumsi masyarakat Eropa dan tidak bisa dinikmati warga lokal Lencoh. Para petani hanya diperbolehkan mengonsumsi daun dari tanaman kopi.

Di pasar lokal, kopi Belanda berjenis Arabica itu dijual dengan harga rendah karena jumlahnya yang sangat melimpah, namun tidak diimbangi dengan pengolahan optimal. Jengkel dengan keadaan itu, para buruh tani dengan sengaja menebang sebagian besar pohon kopi. Kini, di Lencoh hanya tersisa lima pohon kopi asli peninggalan Belanda. Kelimanya tumbuh secara liar sebelum dirawat oleh Iswondo, 43, seorang petani lokal. Lewat tangan Iswondo inilah kopi Belanda kini dikenal sebagai Kopi Liar Lencoh.

Pria yang akrab disapa Wondo ini mulai bertekad membudidayakan kopi sejak 2013 silam. Keinginan itu tumbuh saat desanya didatangi rombongan tur pemetik kopi dari Jogja. Saat itu, Wondo baru mengetahui jika kopi yang dirawat dengan benar akan menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement