Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merawat Kopi Liar Lencoh Peninggalan Kolonial

Agregasi Solopos , Jurnalis-Sabtu, 16 Februari 2019 |22:30 WIB
Merawat Kopi Liar Lencoh Peninggalan Kolonial
Kopi liar Lencoh peninggalan kolonial Belanda (Foto:Solopos)
A
A
A

Meski tak memiliki perawatan khusus, Wondo mulai memperbaiki cara perawatan tanaman kopi. Dia menyiangi gulma yang tumbuh di bawah pohon dan menggantinya dengan sayuran pendek yang ditanam dengan sistem tumpang sari seperti sawi dan wortel. Dia juga merawat tanaman kopi yang baru dikembangbiakkan hingga mencapai tinggi maksimal dua meter. “Semua proses itu akan berpengaruh pada hasil kopi,” tuturnya.

Selain faktor tanaman, petani kopi di lereng Gunung Merapi juga teredukasi seiring perkembangan zaman. Mereka mulai paham bahwa biji yang dapat dipanen adalah biji yang matang berwarna merah, serta tidak lagi memanen saat biji masih hijau. Dulunya biji-biji hijau banyak dijual sehingga menjadikan kopi sebagai komoditas berharga rendah.

Para petani kini tidak lagi menjemur biji kopi di pinggir-pinggir jalan. Debu kendaraan dan aroma tanah disadari bakal berpengaruh terhadap hasil pengolahan kopi di tahap selanjutnya. Tiap mendekati panen besar di bulan Juni-Juli mereka mempersiapkan tempat khusus yang dibuat dari bambu dengan jarak ketinggian satu meter dari permukaan tanah. Kopi akan dijemur di tempat khusus yang tidak terkena sinar matahari langsung.

Khusus kopi Belanda, Wondo memilahnya menjadi dua jenis, yaitu Arabica Lanang dan Arabica Janda. Keduanya dibedakan dari karakteristik biji. Satu pohon kopi Belanda biasanya menghasilkan 7 kg biji sekali panen. Sementara kopi lokal menghasilkan sekitar 10 kg biji.

Dari perbaikan proses mengolah kopi, kini para petani di Lereng Merapi mulai merasakan dampaknya. Mereka membuat kopi Belanda maupun kopi lokal sama-sama naik kelas. Kopi Belanda dipasok ke sejumlah daerah di Soloraya, Jawa, Bali, hingga Maluku. Para petani pun turut merasakan dampak secara ekonomi. Kini rata-rata penghasilan para petani bisa mencapai Rp200.000/hari selama dua bulan masa tanam. “Padahal dulu ibu-ibu petani membawa kopi 10 kg untuk dijual dan mereka hanya mendapatkan keuntungan Rp10.000,” tutur Wondo.

(Santi Andriani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement