Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Psikodrama, Membongkar Lagi Masa Lalu untuk Jadi Pribadi Lebih Baik

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Jum'at, 08 Februari 2019 |16:45 WIB
Psikodrama, Membongkar Lagi Masa Lalu untuk Jadi Pribadi Lebih Baik
Psycodrama membantu menjadi pribadi yang lebih baik (Foto:Sukardi/Okezone)
A
A
A

LANTUNAN musik sendu menyelimuti ruangan tak terlalu besar di salah satu resto di Depok, Jawa Barat. Ambience Minggu pagi (3/2/2019) terasa tenang dan penuh dengan tanda tanya.

Ya, dalam kesempatan ini, Okezone mendapat kesempatan untuk menjajal langsung salah satu metode yang diterapkan dalam dunia psikologi. Metode tersebut bernama psikodrama. Cukup asing mungkin di telinga Anda tapi menarik untuk diketahui lebih jauh.

So, bagaimana pengalaman Okezone menjajal metode psikologi yang satu ini?

Di sesi pertama, fasilitator kita di kelas ini bernama Retmono Adi meminta peserta workshop untuk memperkenalkan diri. Dari sesi itu diketahui, hampir 80 persen peserta adalah praktisi psikologi. Meski begitu, pria yang biasa disapa Didi menyatakan kalau tidak akan ada pembeda dalam setiap sesi.

Dalam sesi perkenalan ini, kita sudah diajak untuk berpikir abstrak dan mau mengekspresikan diri. Hal ini sesuai dengan ilmu psikodrama itu sendiri di mana metode ini meminta Anda untuk bergerak terlebih dahulu, baru kemudian diajak berpikir dan bersikap.

 

Ya, kita diminta memperkenalkan diri tapi kemudian memberikan pose yang yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Hasilnya? Banyak ditemukan pose-pose unik dan ini yang membuat suasana semakin menyenangkan.

Lanjut ke tahapan selanjutnya. Di sesi ini, Didi meminta semua peserta untuk mengibaratkan dirinya sebagai pohon. Apa pun itu, yang penting bentuk pohon. Dari permintaan itu pun Okezone bisa melihat bagaimana karakter setiap pribadi itu beraneka ragam dan semuanya menarik.

"Lakukan saja, jangan takut salah. Dari kesalahan, kita akhirnya belajar sesuatu yang baru dan ini penting untuk kehidupan Anda. Ingat, tidak pernah salah berarti tidak pernah belajar," terang Didi dengan ramah dan dengan logat Jawanya yang medok.

Baca Juga:

Viral Wanita Terima Pesanan Ojol Nyaris Telanjang, Psikolog: Bukan Eksibisionisme

Sesi metode semakin mendalam. Kita tidak lagi melakukan gerakan seorang diri. Didi meminta kita mulai membentuk kelompok. Mulai dari kelompok kecil hingga akhirnya dalam kelompok besar. Tawa riang dan ilmu baru selalu dihadirkan dalam pemaknaan perintah yang diutarakan Didi.

Masih ingat betul bagaimana Didi meminta kita semua, para peserta yang berjumlah 30 orang, untuk menggambarkan situasi taman kota di senja hari. Karena peserta masih terpaku dengan kelompok sebelumnya, alhasil banyak terjadi hal yang lucu.

Ya, akhirnya dalam perintah situasi taman kota di senja hari, muncul banyak matahari, posisi matahari berdekatan dengan alat olahraga yang ada di taman kota, atau juga gerakan pose yang ketika ditafsirkan tidak tepat. Sekali lagi, tidak apa-apa kalau salah.

 

Bonding antar peserta pun kemudian terbentuk dengan baik. Tidak ada lagi kelompok di dalam kelompok. Didi menciptakan penafsiran yang lebih jauh. Dia menyadarkan kalau sepatutnya memang harus dipergunakan akal pikiran dan kondisi lingkungan sosial untuk menciptakan siklus yang seimbang.

Maka dari itu, Didi meminta kita semua untuk membentuk pola suasana pasar. Oh iya, setiap pose yang dilakukan tidak diperbolehkan berdiskusi dan tidak boleh berbicara saat mempraktikannya. Ini bertujuan mengasah intuisi dan sensitivitas akal manusia.

Nah, suasana pasar tercipta. Semua sesuai dengan apa yang diharapkan. Setiap jiwa yang hadir ikut terlibat dan memberi peran dalam kelompoknya. Sadar dengan tugasnya pun menjadi ilmu yang ingin disampaikan Didi.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement