MASYARAKAT Indonesia masih sangat tabu membicarakan tarot. Ilmu ini dianggap "sesat" karena dianggap melibatkan setan di dalam praktiknya.
Persepsi ini semakin menjadi-jadi karena pandangan mengenai ilmu ramal adalah sesuatu yang tidak dianjurkan dalam Islam yang mana ini merupakan agama masif di Indonesia. Tapi, bagaimana fakta yang sebenarnya? Benarkah tarot melibatkan ilmu di dalam praktiknya?
Sebelum itu, tidak ada salahnya kita mengulik sedikit apa sebenarnya tarot itu. Sumber Wikipedia menjelaskan, tarot adalah sekelompok kartu berjumlah 78 lembar yang umumnya digunakan untuk kepentingan spiritual atau ramalan nasib. 22 kartu disebut Arcana Mayor dan 56 kartu disebut Arcana Minor.
BACA JUGA : Cuaca Dingin, Ini Tanda-Tanda Seseorang Mengalami Hipotermia
Set Tarot yang paling populer adalah Tarot Rider-Waite-Smith yang diciptakan oleh A.E Waite dan ilustrator Pamela Colman Smith. Dokumen sejarah mengindikasikan, tarot berasal dari Italia. Sampai saat ini, permainan kartu Tarocchi masih sangat populer di Eropa.
Tidak hanya di Eropa, di Indonesia sendiri kita bisa menemukan beberapa kelompok pembaca tarot. Nah, Okezone berhasil mewawancarai salah satu tarot reader profesional bernama Elisabet Kusumodewi. Dia mengungkapkan praktik pembacaan tarot sampai sekarang masih cukup ramai.

Jika mengacu pada klien yang dimiliki Dewi, sapaan akrabnya, dia mengaku bahwa sudah banyak orang yang dia tangani. Ini menjadi tanda yang nyata bahwa masih banyak orang yang percaya dengan tarot dan hal itu tentu tidak bisa dianggap salah atau keliru.
"Tidak pernah saya hitung. Setiap hari setidaknya ada 3 orang yang konsultasi sama saya, bahkan pada beberapa waktu klien dalam sehari lebih dari 3 orang," katanya pada Okezone, belum lama ini.
Fakta yang dimiliki Dewi tampaknya berbanding terbalik dengan persepsi banyak orang terkait tarot. Ya, tak sedikit dari masyarakat yang menilai tarot adalah sesuatu yang sesat dan tidak benar.
Kembali, bantuan setan menjadi highlight yang selalu digaungkan masyarakat yang belum mengenal betul bagaimana tarot itu sebenarnya.
Khusus pada Okezone, Dewi mengungkapkan fakta sesungguhnya mengenai tarot, bagian dalam kehidupannya sekarang yang sudah dia anggap sebagai gist dari Tuhan.
Dewi memulainya dengan pernyataan singkat ini, "Saya tidak pernah mengalami kejadian mistis saat saya sedang membaca tarot". Pernyataan ini bisa terucap setelah Okezone menanyakan apakah pernah Dewi mengalami kejadian mistis selama proses pembacaan.
Dari statemen itu sebetulnya kita bisa mengambil hipotesis di mana memang terbantahnya yang namanya tarot itu menggunakan 'tangan setan' dalam praktiknya. Sebab, selama kurang lebih 8 tahun Dewi mempelajari ilmu ini, dia sama sekali tidak pernah mengalami hal mistis. Itu berarti, tidak ada unsur setan sama sekali dalam praktik tarot.

Terkait kejadian mistis ini, Dewi melanjutkan, dirinya sama sekali tidak tahu kalau ada kejadian aneh yang bisa terjadi saat pembacaan tarot berlangsung. Perempuan yang kini berusia 40 tahun tersebut punya keyakinan, tarot bukan hal mistis!
Bukan tanpa alasan Dewi bercakap demikian. Tarot adalah ilmu yang bisa dipelajari. Semua yang dilakukan memiliki teori dasarnya.
"Ada manual cara membaca setiap kartunya. Sederhananya, ya, seperti kalau Anda beli hp atau kulkas. Pasti di dalam boksnya ada buku panduannya. Semua bisa membaca, bisa belajar. Begitu juga dengan tarot," paparnya tenang.
Ya, tarot bisa dipelajari siapa pun. Pun Dewi. Dia memulai belajar tarot pada 2011 dan kemahirannya dalam membaca tarot terus terasah sampai sekarang karena membaca dan belajar dari pengalaman yang sudah dilalui.
Tidak hanya itu, berkat karunia Tuhan yang dia miliki, yaitu memiliki vision dan kepekaan insting yang kuat, ini yang kemudian membuat dia terbantu dalam proses pembacaan.
Pengalaman menjadi nilai penting di sini. Bagi Dewi, klien-kliennya adalah ladang ilmu baginya. Dari mereka lah dia belajar banyak hal dan tak sedikit juga pengalaman klien dijadikan bahan introspeksi dirinya.
Proses pembacaan menjadi momen healing yang berarti bagi Dewi. Ya, sekali pun pada beberapa klien, vision yang tergambar adalah sesuatu yang menakutkan.
"Selama ini saya cukup kuat dan tabah, jadi tidak pernah larut dalam emosi klien. Berusaha untuk profesional," katanya.
Dewi melanjutkan, jadi ketika ada sisi menakutkan atau kesedihan yang sangat dalam muncul dari pembacaan yang sedang berlangsung, dia sebisa mungkin mencoba menyampaikan vision tersebut dalam kalimat positif. Selain itu, dia juga menjadi punya tugas untuk memotivasi klien supaya tetap tabah dengan vision yang dia lihat.