Bagaimana temuan ini menjelaskan fakta baru tersebut?
Peneliti melakukan eksperimen selama 28 minggu di museum anak-anak dan memperhatikan lebih dari 34.100 orang dewasa dan anak-anak saat mereka melewati kotak sumbangan museum. Gambar di kotak diganti, dari sepasang mata manusia, ke kursi, ke hidung dan mulut. Kata-kata pada tanda itu tetap sama: "Sumbangan akan dihargai."
Ketika gambar mata berada di kotak, orang menjatuhkan lebih banyak uang ke dalamnya. Peningkatan rata-rata hanya satu sen per patron museum, tetapi itu menambah hingga peningkatan $12 atau sekitar Rp 183 ribu per minggu - keuntungan yang signifikan, mengingat bahwa sumbangan mingguan rata-rata adalah $15 atau setara dengan Rp 228 ribu selama masa studi, kata para peneliti.
Orang-orang memiliki banyak motivasi ketika mereka memberikan donasi amal dan itu tidak selalu tentang membantu orang lain. Terkadang orang memberi dengan alasan egois atau karena mereka terinspirasi oleh peristiwa politik.
Tetapi penghasilan adalah faktor utamanya. Amerika memberikan jumlah uang yang banyak untuk amal tahun lalu, tetapi tidak harus karena peningkatan ekonomi meningkatkan kesejahteraan keuangan semua orang. Banyak dari donasi tersebut berasal dari mega-donor super kaya dan ada kekhawatiran yang berkembang bahwa orang kaya sangat berpengaruh di dunia filantropi.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.