Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengapa Permintaan Maaf di Jepang Bisa Begitu Rumit dan Menjadi 'Seni' Tersendiri?

Renny Sundayani , Jurnalis-Senin, 03 September 2018 |10:55 WIB
Mengapa Permintaan Maaf di Jepang Bisa Begitu Rumit dan Menjadi 'Seni' Tersendiri?
Budaya Jepang (Foto: Getty Image)
A
A
A

'Sumimasen', misalnya, tidak selalu menggantikan 'arigatou'—tetapi menjadi bagiannya.

"Hanya 10% dari 'sumimasen' merupakan permintaan maaf. 90% digunakan untuk menunjukkan rasa hormat, kesopanan, kejujuran," katanya. "Itu merupakan istilah sehari-hari. Ketika seseorang melakukan sesuatu untuk Anda, membantu Anda keluar dari toko kelontong, atau menahan pintu, 'ah, sumimasen' merupakan tanggapan umum."

Semudah mengatakan 'terima kasih', kata 'maaf', 'sumimasen' secara teratur digunakan untuk mengakui masalah yang telah ditanggungkan seseorang untuk Anda. "Ada kerendahan hati di dalamnya; tergantung pada situasinya, apakah itu permohonan maaf atau ucapan terima kasih," kata Inokuma.

Erin Niimi Longhurst, penulis buku Japonisme, yang berdarah Inggris-Jepang, yang menganggap betapa tradisi Jepang dapat membantu menciptakan kehidupan yang lebih bijaksana, sependapat dengan Inokuma.

"Ada budaya permintaan maaf, tetapi ada juga budaya terima kasih. Salah satu anekdot kesukaan saya adalah ketika bibi saya yang orang Inggris bertemu dengan seorang perempuan dalam sebuah konferensi, kemudian mengajaknya ke acara makan malam keluarga.

"Perempuan ini tiba dan membawa hadiah kecil berbungkus cantik yang diberikan kepada kami, semua dari Jepang. Bahkan ada hadiah untuk adik-adik saya yang masih kecil. Dia sama sekali tidak tahu bahwa dirinya akan diundang makan malam ini, tetapi tetap membawa berbagai hadiah, untuk berjaga-jaga. Benar-benar luar biasa."

Piala Dunia 2018 di Rusia ini adalah contoh tingkat kesopanan yang lebih tinggi lagi: ketika tim sepak bola Jepang kalah dalam laga terakhir, aksi mereka menjadi berita utama ketika mereka membersihkan ruang ganti. Bahkan mereka meninggalkan catatan terima kasih.

Jadi, jika permintaan maaf hanyalah satu dari bentuk sopan santun yang lebih luas dari orang-orang Jepang, dari manakah konsep budaya itu berasal?

"Ada suatu kebutuhan bersopan santun di Jepang untuk hidup bersama dengan para tetangganya—itu merupakan bentuk rasa hormat terhadap orang lain," kata Inokuma.

Di Tokyo, melihat ribuan orang bersikap sopan saat antri untuk masuk ke taman Shinjuku Gyoen atau berjalan mengikuti arus menuju pinggir sungai Nakameguro selama musim sakura, merupakan hal yang masuk akal.

Jepang memiliki beberapa kota terpadat penduduknya di dunia, dengan populasi perkotaan sebesar 93,93%.

Tokyo, misalnya, memiliki kepadatan penduduk sekitar 6.150 orang per kilometer persegi, dibandingkan dengan London yang sebanyak 5.729 kilometer persegi.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement