Kembali ke Tokyo, Hidetsugu Ueno, pemilik Bar High Five, menggali lebih jauh tentang konsep ini, bahwa perhatian adalah bagian dari budaya meminta maaf di Jepang. Tetapi dia menambahkan bahwa hal itu sejalan dengan empati.
"Tentu saja kami tidak ingin minta maaf jika kami tidak perlu. Tetapi kita berusaha meletakkan diri kita pada posisi orang lain dan merasakan apa yang dialami orang tersebut, jadi kami ingin mengatakannya secara jelas."
Kesadaran seperti itu termasuk menyadari posisi orang lain dalam ruang lingkupnya, dan karena itulah, meminta maaf juga bermula dari hal yang lebih luas, yakni kemampuan emosional untuk memahami perasaan orang lain.
Tingkat kejahatan di Jepang mendukung hal ini—negara ini terkenal dengan rendahnya angka kriminal, salah satu negara dengan tingkat kasus pembunuhan terendah di dunia.
Ueno mengatakan, "Pastilah ada masalah kejahatan di Jepang. Kami bukanlah biarawan. Tetapi jika kami menemukan dompet di jalan, kebanyakan orang Jepang akan melaporkan ke kantor polisi. Kami paham betapa menderitanya orang yang kehilangan dompet. Jika Anda berpikir hal itu terjadi pada diri Anda, Anda akan tahu bagaimana harus bertindak. Kami mempelajarinya ketika kecil di sekolah."
Ini merupakan skenario ayam dan telur: apakah empati budaya ini lahir dari aspek moral atau sebaliknya? Anak-anak di sekolah Jepang telah memiliki pelajaran 'pendidikan moral' sejak 1958, yang mengajarkan pentingnya bekerja sama dengan orang lain untuk kebaikan semua orang, suatu konsep yang katanya berasal dari para samurai.
"Hal ini memang terkait dalam budaya samurai yang bersejarah itu, tetapi banyak juga yang berasal dari keinginan untuk mempertahankan suatu dinamika kelompok, serta gagasan untuk melakukan sesuatu demi kebaikan orang lain," jelas Longhurst.
Anda hanya perlu mengingat Fukushima 50, sekelompok orang yang melibatkan diri untuk membantu dalam memperbaiki pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima, setelah tsunami yang menghancurkan kawasan itu pada tahun 2011.
Jelas sekali, di Jepang, permintaan maaf merupakan obat yang mujarab, diperhalus dengan bahasa yang rumit.
Tetapi bahasa ini juga cerminan budaya Jepang yang lebih luas. Di sini 'maaf' merupakan jendela menuju perpaduan 'kesopanan, rasa hormat, dan moralitas, yang agaknya dijelaskan sebagian oleh kenyataan hidup di negara kepulauan yang padat dan sebagian karena sikap patuh atas aturan tentang bagaimana memperlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan.
"Keberagaman budaya dan bahasa saling terkait. Suami saya mengatakan bahwa kesopanan dan rasa hormat ada begitu saja dalam DNA orang-orang Jepang." ungkap Inokuma.
Tetapi saya sepakat dengan apa yang disimpulkan oleh Ueno dengan baik: "Orang-orang harus jujur, harus baik, harus tulus. Orang-orang seharusnya memang begitu, bukan?"
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.