Selanjutnya, mitos yang mengkhawatirkan lainnya adalah ketakutan akan "lepas"-nya embrio setelah ditransferkan ke dalam rahim. Prof Budi menjelaskan banyak ibu pasca-embrio transfer akhirnya memilih berdiam diri di rumah atau bed rest. Hal ini karena mereka takut beraktivitas, karena dianggap akan mengancam jabang bayinya.
"Ini salah banget! Kami merekomendasikan mereka tetap beraktivitas seperti biasa. Hanya saja memang aktivitasnya tidak usah yang terlalu padat. Kalau pun mau istirahat, dua hari cukup," paparnya.

Selain itu, Prof Budi menjelaskan fakta bahwa ada penelitian yang membuktikan bahwa embrio yang sudah ditempatkan di rahim akan aman. "Penelitian itu meminta si ibu untuk lompat-lompat dan embrio tidak bergerak sama sekali. Jadi, bisa dikatakan aman," tegasnya.
Dia menambahkan, dengan beraktivitas si ibu tidak merasa stres dan terlalu terbebani pikiran akan jabang bayinya. "Malah, ada fakta medis menjelaskan bahwa ada ibu yang akhirnya memilih berdiam diri dan tidak beraktivitas, karena dia stres, embrionya mati dan itu berarti proses kehamilan bayi tabung gagal," tambahnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.