Ada sepenggal cerita tentang asal-mula penamaan Sate Maranggi khas Purwakarta. Konon, Sate Maranggi merupakan hasil kreasi para pekerja di sebuah peternakan domba di Kecamatan Plered.
Konon, kala itu para pekerja tersebut hanya bisa menikmati makanan berbahan dasar daging domba ini di waktu-waktu tertentu. Itupun, kadang merupakan daging sisa.
Menurut cerita warga sekitar, dari sanalah muncul ide dari para pekerja itu. Mereka berfikir, bagaimana caranya daging domba sisa ini bisa diolah menjadi makanan yang lezat. Akhirnya, mereka menemukan resep untuk mengolah daging sisa tersebut.
Daging sisa tersebut, kemudian mereka potong-potong kecil supaya bisa digunakan dan dimakan secara berkala tanpa membusuk. Potongan daging itu pun mereka rendam dalam racikan rempah-rempah dengan menambah sedikit gula aren. Walhasil, air rendaman itu bisa membuat daging tersebut awet dan memiliki citarasa.

(Baca Juga: 5 Pemain Sepakbola yang Punya Tampang dan Body Keren, Jangan Minder Ya Guys)
Penemuan racikan daging dari para pekerja ternak ini pun terdengar santer di masyarakat. Namun, sejak diciptakan, panganan dari desa itu tak memiliki nama baku, dan warga hanya menyebutnya Sate. Hingga pada akhirrnya, di Kecamatan Plered, terdapat warung Sate domba yang tersohor milik Mak Anggi.
Seiring berjalannya waktu, penyebutan Sate Mak Anggi pun berubah hingga menjadi Sate Makanggi dan sampai saat ini lebih dikenal dengan nama beken Sate Maranggi.
Kiprah pedagang Sate Maranggi yang lahir di Kecamatan Plered pun terus menyebar ke berbagai daerah dengan resep yang semakin bervariasi. Bahkan bukan hanya di Purwakarta, sate ini pun mulai banyak variasinya hingga ke Cianjur, Sukabumi, dan Subang.
(Muhammad Saifullah )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.