Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Stunting di Kalimantan Barat Tertinggi se-Indonesia, Ini 2 PR Pemerintah Provinsi

Utami Evi Riyani , Jurnalis-Minggu, 25 Maret 2018 |15:54 WIB
Stunting di Kalimantan Barat Tertinggi se-Indonesia, Ini 2 PR Pemerintah Provinsi
Angka stunting di Kalimantan Barat tinggi (Foto:Ilustrasi/Theindianexpress)
A
A
A

ANGKA anak yang mengalami stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, 37,2% anak di Indonesia mengalami stunting.

Stunting adalah kondisi di mana anak-anak memiliki tinggi badan yang lebih rendah dari tinggi badan standar usianya. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya gizi buruk, kurangnya kontrol frekuensi makan kepada bayi, hingga kurangnya pelayanan kesehatan di daerah tersebut.

Untuk masalah stunting, Indonesia masih jauh di bawah Singapura dan Malaysia yang masing-masing prevalensi stuntingnya hanya 4% dan 10%. Indonesia juga berada di bawah Thailand (16%), Vietnam (23%), dan Myanmar (35%).

 BACA JUGA:

Dokter Ini Buktikan Manfaat Berpuasa 3 Kali Seminggu, Apa Saja?

Indonesia sendiri berada di urutan ke-5 dunia dengan masalah stunting yang paling banyak. Jika ditilik dari daftar, 10 daerah dengan angka stunting tertinggi di Indonesia, Kalimantan Barat (Kalbar) berada di urutan pertama. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalbar, angka stunting di daerah ini sebanyak 34% atau dialami oleh 139.884 anak.

Sementara kabupaten dengan prevalensi stunting terbanyak di Kalbar berada di Ketapang. Kurangnya pengetahuan ibu akan kebutuhan gizi anak disebut sebagai salah satu penyebabnya.

"Kalau berdasarkan hasil penelitian terakhir, stunting itu terjadi akibat kurangnya pengetahuan ibu. Jadi pola asuh menjadi hal penting dalam upaya kita memerangi stunting," ujar Karolin Margret Natasa, Calon Gubernur Kalbar nomor urut 2, di Ketapang, Kalbar, Sabtu 24 Maret 2018.

 

Mantan anggota Komisi IX DPR RI itu mengatakan, ada dua hal yang harus ditingkatkan oleh pemerintah provinsi untuk memerangi stunting. Salah satunya adalah pendampingan kepada masyarakat untuk memberdayakan masyarakat dalam meningkatkan gizi.

BACA JUGA

Remaja 19 Tahun Idap Penyakit Langka, Mentalnya Jadi seperti Anak 18 Bulan

"Dalam perannya sebagai pemerintah provinsi, tugasnya adalah pendampingan kepada pemerintah kabupaten dalam penyusunan program-program pemberantasan stunting kemudian juga untuk meningkatkan tata laksana rujukan pasien dengan gizi buruk," jelas Karolin.

Untuk keluarga, pencegahan stunting dapat dilakukan dengan memperhatikan gizi dan asupan makanan selama 1.000 hari pertama kehidupan anak. Selama 270 hari kehamilan dan 730 hari setelah kelahiran, atau sekira 2 tahun pertama setelah bayi lahir. Pencegahan bisa dilakukan dengan memberi ASI eksklusif kepada bayi selama enam bulan, dan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang berkualitas.

(Santi Andriani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement