Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Meluruskan Persepsi Makna Sunah Malam Jumat

Dina Prihatini , Jurnalis-Jum'at, 05 Januari 2018 |04:05 WIB
Meluruskan Persepsi Makna Sunah Malam Jumat
Ilustrasi (Foto: Soundvision)
A
A
A

Dalam riwayat lainnya, dari Abu Hurairah RA Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa yang berwudlu lalu ia membaguskan wudhunya kemudian datang untuk salat Jumat kemudian ia mendengarkan khutbahnya dan diam pasti diampuni dosa-dosanya yang ada antara Jumat dan Jumat berikutnya dan ditambah tiga hari dan barang siapa yang memegang kerikil sungguh ia telah sia-sia. (HR Muslim nomor 857).

Dari sandaran di atas, tak heran seluruh umat muslim sangat begitu mencintai hari Jumat. Kedatangannya selalu dinanti dan disambut dengan ragam ibadah wajib maupun sunah. Namun, ada persepsi keliru tentang hari Jumat, mengenai malamnya sering orang berkata,"Ini malam Jumat lho, siap-siap yang punya istri sunah rasul.”

"Padahal, tidak begitu adanya, malah terkesan sunah rasul hanya berkaitan hal begituan, saya fikir ini sangat tidak bijak," jelas Ustadz Zein Muchsin kepada Okezone.

Sunah yang dimaksud lebih tepatnya menurut Ustadz Zein Muchsin adalah memperbanyak istighfar, dzikir, bersalawat dan sedekah. Sebagaimana ucapan Nabi Muhammad SAW bahwa hari Jumat adalah sayyidul ayyam serta hari lebarannya orang miskin, maka hari Jumat disebut hari penuh barakah.

Khusus mengenai sedekah yang sangat dianjurkan dilakukan terutama pada hari Jumat, Ustadz Zein Muchsin menjelaskan bahwa hal tersebut adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Ustadz Zein Muchsin menceritakan kisah, suatu hari di saat Rasulullah SAW selesai salat berjamaah bersama para sahabat, tiba-tiba beliau terburu-buru keluar dari masjid, seakan-akan ada hal yang sangat penting untuk segera direalisasikan.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement