Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

OKEZONE WEEK-END: Mengenal Sejarah Kerajaan Tanah Hitu, Pusat Kejayaan Rempah-rempah di Maluku

Advertorial , Jurnalis-Sabtu, 21 Oktober 2017 |16:15 WIB
OKEZONE WEEK-END: Mengenal Sejarah Kerajaan Tanah Hitu, Pusat Kejayaan Rempah-rempah di Maluku
Foto:Ist
A
A
A

Kelanjutan dari kesepakatan tersebut yaitu mendirikan sebuah kampung dan memberi nama Ama Hitu/Aman Hitu. Terletak satu kilometer dari tanah Hitu. Bekas kota ini masih bisa kita lihat sampai sekarang, yaitu adanya bekas fondasi masjid.

Masjid itu merupakan masjid pertama di tanah Hitu dan bernama Masjid Pangkat Tujuh karena fondasinya tujuh lapis. Dalam musyawarah keempat perdana itu diputuskan memilih seorang raja, yaitu salah seorang anak muda yang cerdas yang merupakan keturunan empat perdana. Anak muda tersebut merupakan anak dari Zainal Abidin dengan gelar Upu Latu Sitania pada 1470 Masehi.

Setelah berdirinya kerajaan yang berpusat di Tanah Hitu. Kemudian daerah di sekitarnya mulai bergabung dengan kerajaan di antaranya klan (Marga) Alifuru, Tomu, Hunut, dan Masapal. Dengan bergabungnya marga tersebut, maka Kerajaan Hitu sudah terdiri dari 7 Negeri.

Ketujuh negeri tersebut terhimpun dalam satu tatanan adat (Uli) yang disebut persekutuan emas (Uli Halawan). Uli Hawan ini merupakan persekutuan dengan tingkatan paling tinggi karena merupakan pendiri awal kerajaan. Gabungan Tujuh Negeri menjadi Negeri Hitu, di antaranya Negeri Soupele, Negeri Wapaliti, Negeri Laten, Negeri Olong, Negeri Tomu, Negeri Hunut, Negeri Masapal.

Kerajaan ini menganut sistem pemerintahan kerajaan (kesultanan) dan banyak mengambil sistem pemerintahan dari Kerajaan Mataram Islam. Sebab, salah satu marga di Tanah Hitu berasal dari Mataram sehingga pengaruh agama Islam sangat kuat pada kerajaan ini. Namun juga terjadi akulturasi antara Islam dengan kebudayaan setempat.

Raja Mateuna merupakan raja terahir dari Tanah Hitu dan meninggal pada 29 Juni 1634 Masehi. Tanah Hitu merupakan pusat kerajaan, namun setelah Raja Mateuna meninggal pusat kerajaan pindah ke pesisir pantai. Pada 1520 – 1605 Masehi, Maluku kedatangan portugis. Kedatangan Portugis ditentang oleh masarakat Hitu karena bersikap arogan, ingin memonopoli perdagangan, menyebarkan agama Katolik, dan tidak menghargai kebudayaan masarakat Hitu

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement