Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

OKEZONE WEEK-END: Agama & Budaya, Filosofi Tersembunyi di Balik Gunungan Nasi Tumpeng

Devi Setya Lestari , Jurnalis-Sabtu, 30 September 2017 |05:30 WIB
OKEZONE WEEK-END: Agama & Budaya, Filosofi Tersembunyi di Balik Gunungan Nasi Tumpeng
Filosofi nasi tumpeng (Foto:Javakitchen)
A
A
A

Dahulu nasi tumpeng hadir dalam acara kenduri. Setiap bagian dari nasi tumpeng memiliki arti dan makna termasuk bentuk serta lauk pauk pendampingnya. Umumnya nasi tumpeng disajikan di atas tampah beralas daun pisang.

 

Bentuk nasi tumpeng yang kerucut melambangkan sebagai gunung, karena awalnya nasi tumpeng dibuat untuk memuliakan gunung sebagai tempat bersemayamnya para leluhur atau nenek moyang. Tapi kepercayaan ini bergeser ketika agama Hindu masuk ke Pulau Jawa dan Bali. Masyarakat membuat nasi tumpeng sebagai perwujudan Gunung Semeru dengan puncak Mahameru tempat yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para Dewa dan Dewi.

Perkembangan nasi tumpeng kembali terjadi ketika Islam memasuki Nusantara. Budaya nasi tumpeng ini kemudian dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa. Penyajian lauk pada nasi tumpeng berjumlah 7 macam yang dalam bahasa Jawa disebut pitu yang juga memiliki arti pertolongan.

Nasi tumpeng beserta lauk pauknya memiliki makna serta filosofi tertentu. Nasi putih pada nasi tumpeng dengan bentuk kerucut ini melambangkan apapun yang harus kita makan harus bersumber dari sesuatu yang bersih dan halal. Sedangkan bentuknya yang kerucut memiliki makna harapan supaya hidup selalu selalu berjalan sejahtera.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement