Hanya saja, di NTT tentu tak ada kuil yang berdiri tegak di puncak tebing, dan dikelilingi lautan. Rasanya memang tak ada tempat yang tepat dalam membangun kuil untuk menghormati Dewa Laut Poseidon selain di Sounion. Kuil Poseidon adalah bagian dari tradisi orang Athena masa lampau yang senang membuat bangunan demi menghormati dewa-dewi mereka.
Pada abad ke-5 SM, selepas Perang Persia (Persian War), gubernur Athena memutuskan untuk membuat program pendirian bangunan-bangunan raksasa. Dipilih tiga bangunan untuk didirikan, yaitu Parthenon, Temple of Poseidon, dan bangunan di Ancient Agora. Bentuk kuil Poseidon sama dengan Parthenon, hanya saja dalam ukuran yang lebih kecil.
Tinggi pilar-pilarnya mencapai 610 meter, diameter bawah 1 meter dan diameter atas 79 cm. Bahannya dibuat dari marmer putih, dan semuanya hasil impor. Di bagian atas pilar-pilarnya juga terdapat grafiti atau tulisan tangan para seniman terkemuka abad ke-17. Salah satunya penyair sekaligus politikus asal Inggris, Lord Byron.
Sayangnya, tulisan tangan tersebut tak bisa dilihat dengan jelas karena pengunjung dilarang mendekat ke kuil. Batas pengunjung berdiri hanya sekitar 2-3 meter dari kuil. Pada masa yang lebih lampau, kuil ini menjadi tempat bagi para pelaut dan warga Athena untuk meninggalkan persembahan bagi Poseidon.
Sementara sekarang, Temple of Poseidon menjadi ikon laut bagi Yunani, termasuk panduan bagi para turis yang ingin berlayar atau datang ke Yunani lewat laut. Meski sudah berubah fungsi, setidaknya dari dulu hingga sekarang, kuil ini selalu dikunjungi banyak orang. Dan hampir pasti, meninggalkan mereka dengan ketakjuban. (ful)
(Fahmi Firdaus )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.